[FanFiction] Close Your Eyes

image

Close Your Eyes
Cast: Lee JunHo
Hwang ChanSung
Hwang ChanRi
Genre: Friendship, Romance
Length: LongShoot
Rate: General
Author: Adelin

Tutup matamu, agar aku dapat mengecup matamu.
~~~
Berharap, Subway ini lebih cepat lagi lajunya untuk
sampai di Stasiun Hwehyeon.
Aku yang berdiri dan memegang pegangan tangan
di atas, semata hanyalah untuk mengurangi rasa
cemasku. Mungkin, panas dingin kini telah
mengucur dalam keringatku.
Akhirnya!!! Aku pun segera keluar dari pintu Exit
no.5 yang akan membawaku ke pinta masuk
Namdaemun Shijang (Pasar Namdaemun).
Aku segera berlari menyusuri tiap-tiap lorong pasar
itu.
Sesampainya lah, aku melihat seorang pemuda,
memakai kaos putih polos yang di penuhi ceceran
darah serta luka memar menyelimuti tiap titik
wajahnya dan awaknya yang berbidang. Pemuda
itu terengah-engah seraya menatap dengan
dinginnya titik temu itu pada bola matanya.
Sedikit demi sedikit aku langkahkan mendekatnya
pada depan toko kotor itu.
“ABOJIII!!!!! EOMMA!!!!! ANDWE!!!” teriak seorang
pemudi di samping jasad tak lama itu dengan
histeris yang mendalam.
Histeris? Bukankah pemudi itu tak dapat berbicara?
Lalu?
Aku pun mencoba mendekat gadis kisaran 16 tahun
itu.
Namun, pemuda itu yang berdiri tepat pada toko itu
menahanku dengan memegang bahu kiriku.
“Biarkan saja,” ungkapnya dengan suara agak
parau.
“Chansung-ah, mianhae. Tadi, aku…” sautku
mencoba menjelaskan.
“Ini takdir,” lanjutnya dan tersenyum dalam air
mata yang tak tertahan hingga berkaca-kaca.
ChanSung, dia adalah sahabatku sejak Sekolah
Dasar. Kehidupannya di pasar membuatnya
memiliki kepribadian yang cukup kasar.
Orang tuanya tadi, telah meninggal akibat
kekerasan dari sang ‘Pemalak’ pasar ini. Paginya,
ia telah memberi pesan sms padaku kalau aku
harus membantunya melawan ‘Pemalak’ gila itu.
Namun, na’as itu hanyalah rencana.
***
Petang itu kala sekolah telah selesai. Aku berjalan
menyusuri kembali pasar Namdaemun. Dinginnya
udara akhir tahun serta hangatnya sang mentari
ke-orange-an bertanda hari kan gelap.
Aku pun terduduk di depan toko yang keluarga
ChanSung geluti sebagai Toko Barang Antik. Walau
namanya Antik, tetap saja harganya tak sampai
jutaan Won.
“Kau tidak sekolah?” tanyaku ketika ChanSung
duduk di sampingku.
“Ne. Kasihan ChanRi,” sautnya.
Aku pun sedikit menengok ke arah ChanRi, adik
perempuan ChanSung yang tak dapat berbicara,
tapi saat itu?
“Adikmu, kemarin. Dia, bisa berbicara?”
tanyaku sedikit ragu.
“Ya. Aku juga tidak mengerti. Tapi, sesaatnya
sesudah itu. Tidak lagi,”
Aku pun terdiam dan melihat kembali ChanRi yang
tengah mengelap sekepal gelas yang ditata di toko
itu.
“Adikmu, pasti tertekan,” lanjutku
“Walau kau sahabatku. Tapi, bagaimana pun juga.
ChanRi tanggung jawabku. Tak usah kau
pedulikannya,” ungkap ChanSung yang membuatku
mengerutkan alis.
“Tapi, aku dapat menganggap dia adikku. Aku akan
menjaganya juga,” elahku.
“Andwe! Kau bisa saja menyakitinya. Biarkan
hidupnya datar, biarkan hidupnya seperti ini tanpa
campur tangan orang seperti kau yang menyukai
impian dan kejutan. Aku mohon, dia adalah adikku,
keluargaku,” cerocos ChanSung menjelaskan.
“Arrata,” tundukku akhirnya dengan suara kecil.
Entah, mengapa ChanSung seperti ini. Apa
mungkin, dia kesal denganku? Apa salahku?
***
Ibuku memiliki sebuah toko Bunga di persimpangan
jalan dekat dengan stasiun subway. Rumah
sekaligus Toko, yang telah kami huni sejak aku
dilahirkan.
Sebagai seorang anak laki-laki. Konyol memang
jika aku sangat mencintai Bunga Mawar Putih yang
setiap harinya aku tatap.
Aku berjanji, aku akan memberikan ribuan bunga
mawar untuk gadis yang akan aku cintai kelak.
“Junho-ya ~ Junho-ya ~,” seru seseorang yang
sukses membuat khayalku berantakan.
Aku pun segera keluar dari toko dan mendapati
ChanSung.
“ChanSung-ah ~ Wae gaerae?”
“Junho-ssi bisakah kau membantuku?” cengir
ChanSung.
***
Seperti itulah dia. ChanSung, jika ada yang
diperlukan, pasti akan memintaku membantunya
dengan dialeg konyolnya.
Ya, bingo!
Dia memintaku untuk menurunkan beberapa barang
antik dari sebuah mobil Pick Up.
Selesainya itu, aku pun terduduk mengatur nafas
akibat beratnya barang kuno itu.
Dapat aku lihat, betapa pekerja kerasnya Chansung,
ia masih saja menata benda berat itu satu persatu.
Sedangkan aku? Kini rasanya ingin aku terkapar.
Tiba-tiba sebuah tangan dengan secangkir teh
menyodorkannya untukku.
ChanRi, dia memberikan ini untukku.
“Untukku?” tanyaku seraya menunjuk diriku sendiri.
Ia pun mengagguk sangat halus.
“Gomapseumnida,” lanjutku tersenyum dan
mengambil cangkir itu dari tangannya.
Ia pun mengangguk kembali dengan datar, lalu
pergi ke belakang. Aku terus menatapnya hingga
dindinglah yang menghalangi pandanganku.
ChanRi, dia gadis belia. Naif dan mulia. Aku sangat
yakin dalam hidupnya hanya ada satu kata ‘Biasa’.
Karena, seperti ChanSung katakan. ChanRi tidak
mengenal apa-apa selain barang antik. Televisi?
ChanRi terbilang tidak menyukai kehidupan luar.
Terbukti, hanyalah dapur dan toko yang ia geluti
setiap harinya.
Namun, ini adalah gadis unik, sama uniknya
dengan barang yang ada di tokonya.
Hwang Chan Ri, aku ingin memberikan triliunan
makna kehidupan untukmu ~
***
“ChanSung-ah! Ayolah!! Biarkan ChanRi mengetahui
dunia yang sesungguhnya! Aku akan menjaganya!”
desakku kala kami tengah bermain basket di
lapangan sekolah petang itu.
“Apa kau akan bertanggung jawab jika ada yang
terjadi pada ChanRi?” tanya ChanSung mengetesku.
“Aku berjanji! Apa yang terjadi pada ChanRi karena
aku. Aku akan bertanggung jawab!” Janjiku.
“Besok pagi. Sana kau ajak dia bermain!” suruh
ChanSung dan langsung melemparkan bola basket
kepadaku.
“Ok ~ Big Brow!!” cengirku dengan bahagia.
***
Aku menuntun ChanRi menaiki subway menuju
Lotte World. Wajah ChanRi seketika heran.
Tiba-tiba ia pun mengeluarkan buku catatan kecil
sebagai perangkat komunikasinya.
“Kita akan kemana?” tulisnya.
Dan, itu adalah pembicaraan pertama untukku
darinya.
“Kita akan ke Lotte World,”
Dengan sedikit ragu ia pun menegang. Aku tak
mengerti mengapa.
“Tenang saja, kau akan baik-baik saja bersama
denganku,” sautku dan merangkulnya.
Sesampainya disana. Dapat aku pastikan ia tak
henti-hentinya berbinar matanya.
“ChanRi, inilah hidup,” bisikku.
Dan, akibat bisikkan itu membuatnya menatapku
kaget. Aku pun juga menatapnya dan tersenyum.
“Kajja ~ kita bersenang-senang!” titahku dengan
gembira.
Melihatnya tersenyum saja, membuat aku ingin
sekali hidup abadi di dunia ini bersamanya.
Bersama senyuman yang tak pernah aku lihat
sebelumnya, sampai akhirnya senyuman itu
menyinari bunga malamku, mimpi.
***
“Aku, mencintai adikmu,” ungkapku kala ChanSung
tengah mengerjakan tugas di rumahku.
“Mwo-ya? Neon?” sentaknya kaget.
“Ne. Aku mohon, izinkan aku untuk menjaganya.
Aku tidak akan menyaktinya. Aku berjanji,”
“Lee JunHo. Kata-katamu sangatlah konyol. Cinta
itu tidak ada yang tidak menyakitkan dan
menyakiti. Sangatlah bodoh kau berjanji seperti
itu,” saut ChanSung dengan gaya bahasanya.
“Tapi, aku mohon. Aku mohon! Izinkan aku sekali
ini saja untuk dapat menjaga adikmu seuntuhnya,”
kekehku pada pendirian ini.
“Yak! Yak! Junho-ya! Kau adalah laki-laki terbodoh
mencintai adikku yang tunawicara seperti dia! Kau
bodoh! Tidak akan ada laki-laki yang ingin
bersamanya
kecuali ia orang bodoh dan buta,” lugas ChanSung
seraya menatapku dingin.
“ChanSung-ah! Tapi orang bodoh itu bukan aku!
Melainkan kau! Kau terlalu bodoh! Menganggap
Hwang ChanRi hanya sebagai gadis tunawicara
yang tak berhak memiliki impian dan cinta!
Micheoseo!” bentakku akhirnya tak ingin kalah.
ChanSung pun terdiam dan melihat beberapa
bingkai berpotretku dengan ChanSung. Entah apa,
namun setelah itu pandangannya pun tertunduk.
***
Aku berikan ribuan kelopak bunga mawar putih
untuk kau ~
Hari ini. Disebuah taman yang sepi, dan hanya ada
aku dengan sesosok gadis yang terpana akan
keajaiban Cinta tengah berdiri menatap tebaran
bunga mawar itu dariku untuknya.
“Hwang ChanRi, ini untukmu,” ungkapku berdiri di
sampingnya yang masih terpukau sejadi-jadinya
karena ulahku.
Ia pun menatapku dengan berbinar penuh arti. Ya,
aku dapat mengetahui apa yang ia maksud.
Aku mengambil tangan kirinya dan menatap ribuan
bunga yang terbentuk menyebar.
“Aku mencintaimu, ChanRi ~” ujarku.
Ia pun tertunduk. Kini aku raih kedua pundaknya
lembut.
“Segalanya. Apapun itu. Hidupmu. Kau yang
menghidupkan aku kini. Maka izinkan aku,
mencintaimu,” lanjutku.
Tatapannya pun menatap mataku.
Jelas tak ada jawaban yang menguntai di bibirnya.
Hanya saja, senyuman itu ada. Kata hatiku pun
berkata. Itu milikku!!! UNTUKKU!
Ia memejamkan kedua matanya dan tersenyum
halus.
Bisu memang. Tapi, aku pun mencium kelopak
mata sebelah kananya. Kelopak mata ini sama
indah dan harum bagai kelopak bunga mawar putih
itu.
“Saranghandago ~ Hwang ChanRi ~”
***
Hari itu ~
Mengawali hidupku selamanya akan menjadi awal.
Musim panas telah menyaba negeri ini dengan
hangat. Aku dengan ChanRi tengah bercengkraman
ria di taman yang setiap harinya saksi kehangatan
ini. Bibit bunga mawar putih yang dahulu ku
pendam. Kini mereka tumbuh setiap harinya bagai
cinta ini.
ChanRi tengah duduk selonjor, aku dengan
manjanya menaruh kepalaku di lututnya berbaring
seraya mendengarkan musik pada satu-satu
aerphone.
Ini sungguh bisu. Tapi mengapa aku begitu
menikmati tatapan matanya kesana-kemari sambil
sesekali terpejam.
‘Oppa, izinkan aku menyebut namamu. Ajarkan
aku,’ tulis ChanRi yang membuatku terbangun dari
baringanku.
“Kau bisa,” ujarku.
Seperti sudah siap, ia menatap mataku dan terlebih
bibirku.
“Katakan perlahan. I… Jun..O…,” rentetku perlahan
dengan sejelas mungkin.
“I…… Junnnnn….. O!” ulangnya perlahan.
“GREAT!” riangku seraya mengepal kedua
pundaknya.
Ia pun juga tersenyum dengan berbinar.
“Sebutkan kata itu untukku setiap hari,” lanjutku
dan memeluknya.
***
‘Aku pergi ke Apgujeong-dong untuk mengambil
barang sampai malam. Jadi tolong temani ChanRi
di toko. Aku percaya padamu = ]’
Isi pesan ChanSung melalui SMS.
Aku yang membaca pesan itu hanya bisa terkekeh
kecil. ‘Bagaimana bisa dia juga luluh
denganku?’ (HHHHAAAA L.O.L)
Aku yang tengah merangkai bunga mawar putih
sebagai pita cantik untuk ChanRi mempercepat
gerak rangakaian jemariku ~
Jenjrenggg!!! JADILAH!
Sebuah pita bisa disebut bando terbuat dari bunga
mawar putih kini aku genggam sebagai pembuktian
betapa aku menyukai Mawar putih sampai setiap
harinya aku memberi mawar putih untuk ChanRi.
Untung saja ChanRi tidak bertulis ‘Kalau begitu,
berpacaran saja kau dengan bunga mawar’
***
Sudah musim panas tapi mengapa sore ini hujan
cukup lebat. Tak peduli, aku tetap berjalan menuju
toko ‘Antique Hwang’ dimana itu lah nama toko
ChanSung & ChanRi geluti.
Bersama dengan payung hitam ini aku terus
menyusuri tiap-tiap lorong pasar. Genggamanku
lekat dengan pita bando ini.
Sesampainya di samping toko mengapa toko itu
tertutup?
Aku berhenti sejenak seraya berpikir cukup berdetik.
Toko itu tertutup dengan rolling doornya, biasanya
tidak. Apa mungkin ChanRi sedang keluar? Tidak
mungkin, mau kemana dia? Lalu mengapa????
Sejuta pertanyaan menggerayang di pikiranku,
sampai akhirnya aku mulai melangkah selangkah.
Tapi, aku lihat!
3 pria berbadan besar dan bertato dengan wajah
sangarnya keluar, di ikuti seorang dengan
menampilan berdasi rapi dan tengik itu keluar dari
toko itu!!!
Mereka tak sadar kehadiranku yang menatapnya
heran.
“Puaskah kalian?” ungkap pria berdasi itu cekakak-
cekikik.
“Pasti bos,” saut ketiga pria garang itu.
Mereka pergi menjauh dan aku dengan terhentak
langsung menjatuhkan payung hitamku. Nalar
sarafku baru terhubung dengan adanya ChanRi di
dalamnya! ChanRi! Tidak mungkin!
“HWANG CHAN RI!!!” teriakku sesampainya didalam
rumah toko itu.
Dapat aku dengar suara isak tangis kecil nan taha
dari dalam kamarnya.
Dengan melemas aku menghampiri ChanRi yang
duduk di pojokan kamar dengan keadaan? Aku
tidak dapat membayangkan. Yang jelas, tubuhnya
kurus hanya tertutup dengan selimut tebal itu.
Wajahnya memucat, rambutnya teracak,
bersembihan tuturan air mata, panas dingin. Rupa
yang tak dapat dikatakan. SAKITNYA! “Hwang
Chan Ri, apa yang terjadi?” tanyaku dengan air
mata yang tak lagi tertahan melihat rupanya.
Pasti tak ada jawaban. Tapi, ia memukul-mukul
dirinya sendiri dengan amat kasarnya.
“AA…uu..iii..aaaooo..iiieeee!!!!!!” teriaknya tak jelas
dengan beberapa huruf vokal.
“Aku salah!!!! Pukul akuu!!! AYO CHANRI PUKUL
AKU!!!!” teriakku akhirnya seraya mengambil
lengannya ke arahku.
Ia pun kembali melemas. Terdiam sedetik pun,
sampai akhirnya ia mengigil hebat.
“ChanRi!” aku pun heran dan langsung
memeluknya.
Sungguh! Mengapa hal hina ini terjadi pada
ChanRi!!! Gadis yang aku cintai! Mengapa dia?
Mengapa harus ChanRi???
Ini salahku!! Datang terlambat!!! Tuhan! Aku tidak
tahu harus berbuat apa?
Gadis sepolosnya, harus mengalami hal seberat ini.
Aniaya aku! Jangan dia! Hukum aku! Lumpuhkan
aku! Jangan dia!
Aku terus berteriak dalam batin! Mengapa harus
ChanRi!
Orang tuanya terbunuh karena aku datang
terlambat dari ulah Preman gila itu.
Dan sekarang! ChanRi? Karena aku juga?? AKU
BODOH ~
***
Tatapannya berair, matanya sendu, namun
senyuman itu berkembang di antara miliyaran
kepedihan. Secarik kertas dan pena pun
menghadapku dengan tinta tertulis. ‘Oppa, kau
adalah matahari untukku, membangkitkan hidupku
yang kelam menuju indahnya sang dunia dengan
impianmu tiada pernah pudar. Namun, kau selalu
menutup mataku pada ciumanmu itu. Dan, sinar
wajahmu sangat benderang bagai hidupmu kelak.
Karena itulah, mataku tertutup olehmu…’
~ ~ ~
MIMPI, aku bermimpi! Hwang ChanRi.
Aku terbangun pada pukul 2.30AM, karena mimpi
wanita yang kini entah di mana.
Semenjak, kejadian kelam itu. Aku tak tahu kemana
pindahnya ChanSung dan ChanRi. Bahkan,
ChanSung terdengar kabar berhenti sekolah. Aku
betul-betul tidak tahu harus mencarinya kemana.
Namun, mimpi tadi membangunkanku untuk
mencarinya. Aku pun lekas tertidur kembali seiring
terpejamnya mataku.
‘Kalau Oppa untukku, kita akan bertemu kembali.
Bagaimana pun keadaannya. Cacat pasti, Hidup tak
pasti’
~ ~ ~
Antara lelap dan tidak suara itu terngiang muncul.
***
Berdetik, bermenit, berjam, berhari, berminggu,
berbulan, bertahun. Telah aku lewati mencari
mereka, namun hasilnya nihil dan nol besar.
Kini aku telah meluluskan sekolah menengahku.
Dulu aku pernah berjanji pada ChanSung, kalau aku
akan membuka toko bunga di samping tokonya,
tapi nyatanya tidak nyata. Mungkin, saja dia telah
membenciku, melupakanku.
Pagi itu baru saja aku sampa di daerah Insa-dong
tengah membuat dekor bunga untuk festival
budaya tradisional Korea.
Ketika aku tengah menunjuk bagian dekor untuk
pegawaiku, mataku terpandang seseorang yang
sangat aku kenal rupanya. Ia baru saja
menutunkan barang antiknya itu.
“ChanSung-ah!” teriakku akhirnya tak tahan.
Seolah mengetahui gerak-gerikku ke arahnya ia pun
sesegera mungkin masuk ke dalam mobilnya.
“Yak! ChanSung-ah! Ku mohon buka pintunya!”
pintaku seraya memukul pelan kaca mobilnya.
Ia menghirau dan menggas mobilnya. Merasa tidak
mau kalah aku pun segera menaiki mobil yang tak
jauh dari situ, mengejarnya.
Hujan kini mengguyur, membuat penglihatan ini
harus terbias. Laju pun semakin tidak terkendali
kala aku terus menggas pegasnya mengejar
kecepatan mobil ChanSung.
Sampailah di sebuah pemukiman cukup padat, yang
menaiki bukit kecil. Aku berhasil menemui rumah
ChanSung kini, ya ia memberhentikan mobilnya itu
di depan rumah kecil nan suram itu.
Memberanikan untuk menghampirinya pasti, karena
ini adalah niatku sejak kehilangannya.
Terobos hujan, tepat kini di depan rumahnya.
“Permisi! ChanSung-ah! Izinkan aku bertemu
denganmu dan ChanRi!” teriakku dari depan pagar.
“ChanSung-ah!!! Jebalyo!!” lanjutku.
Namun, sama sekali tak ada jawaban.
Aku seperti orang bodoh. Sangat bodoh.
Hujan semakin menghujatku.
1 jam aku terus berteriak di sini berharap
ChanSung mendengar, namun ia benar-benar
membeku untukku.
Sampai akhirnya, pagar itu terbuka. Aku pun
menatap dengan berbinar namun, seketika sebuah
pukulan mendarat di pipiku.
“Yak!!! Neon micheoseo!!! Untuk apa kau di sini?
Eoh? Ingin membuat ChanRi semakin rapuh? Kau
tak puas? Silahkan kau bunuh aku! AYO!” teriak
ChanSung seraya menarik kerah kemejaku.
“Aniya!! Jeongmal aniya! Aku merindukanmu juga
ChanRi! Aku mohon! Jangan seperti ini! Ini
membuatku gila!”
“Aku lebih gila!” kekeh ChanRi mendorong tubuhku.
“ChanSung-ah aku mohon temukan aku dengan
ChanRi! Aku mohon! Aku ingin menebus
kesalahanku yang fatal kala itu. Aku mohon!”
ungkapku dihadapannya dengan nafas yang
memburu.
***
Di sebuah kamar. Hidup seorang gadis terawat.
Namun, begitu melihatku ia langsung berteriak tak
jelas seraya memukul dirinya sendiri.
ChanRi, apa artinya ini?
“Kau puas? Tidak mungkin sisa hidupmu hanya
untuk menebus kesalahanmu padanya. ChanRi
cacat mental kini. Kau bodoh jika untuk
merawatnya!” ungkap ChanSung di sampingku
meratapi adik semata wayangnya yang hidup
sangat menderita kini.
“Junho-ya. Ku pikir sekarang kau keluar dari sini!”
titah ChanSung seraya menarik lenganku.
“Ani. Aku mohon izinkan aku untuk merawatnya
sampai normal kembali. Jika, dia telah kembali
normal. Aku berjanji, aku akan pergi dari
kehidupanmu, juga ChanRi. Aku… aku berjani,”
ujarku terbata dengan yakin.
ChanSung menundukan kepalanya tanda berpikir.
***
ChanSung mengizinkanku untuk merawat ChanRi
untuk terakhir kalinya sampai mentalnya kembali.
Aku jalani semua ini dengan sabar. Reaksi ChanRi
tetap, kadang membisu kadang berteriak seraya
menyakiti dirinya sendiri.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Dan kini telah
berganti enam bulan. Terlihat, keadaan ChanRi
membaik. Reaksinya kini sepadan. Dia mulai
mengenaliku, berkomunikasi kecil lewat carik kertas
serta pena itu.
Aku yakin, sebentar lagi aku akan meninggalkannya
untuk selamanya.
Aku menaruh sepucuk bunga mawar putih yang aku
bawa kepada daun telinganya. Membuatnya
tersenyum nan anggun.
‘Terimakasih, Oppa’ tulisnya yang membuatku
tersenyum.
Lagi-lagi nalarku, berkehendak untuk mencium
matanya sampai tertutup.
Ini terakhir, aku tak akan mengulanginya lagi demi
hidupmu. Hwang Chan Ri, cintaku.
***
“Ini adalah hari terakhirku merawatnya. ChanSung-
ah jaga adikmu baik-baik. Ini janjiku. Terimakasih,
telah memberiku kesempatan Annyeongie nan
sarang
,” ungkapku dihadapan ChanSung yang terdiam
sampai akhirnya aku pergi.
Bagaimana pun ini yang terbaik. ChanRi akan
menemukan cintanya yang tak akan menyakitinya.
Yeongwonhi ~
***
Aku termenung seraya menunggu bus datang di
halte.
“Junho-ssi! Pilihanmu benar sangat! Ayolah MOVE
ON! GIVE UP!” gumamku seraya menghilangkan
bayangan ChanRi.
Ketikanya aku mulai berdiri dari dudukku, aku
melihat gadis membawa setangkai mawar putih
melambai untukku di seberang jalan sana. Aku
membiaskan penglihatkanku, sampai aku sadari,
Hwang Chan Ri!
Ia pun melangkahkan kakinya menyebrang penuh
senyum dengan pakaian serba putih itu sepadu
dengan mawar. Aku pun ikut menyambutnya di
halte ini dengan senyuman,
namun…
“ChanRi-ahhhh!!!!!” teriakku.
Na’as miliknya, duka milikku.
Tubuh ChanRi teroyak tertabrak mobil mini bus di
depannya.
Dengan rasa tak menyangka, langkahku gontai
melihatnya gini tak bernyawa. Terkapar begitu saja
dengan tangan kanan menggenggam setangkai
bunga mawar putih di dadanya, sera catatan
komunikasinya tergeletak di aspal di atas telapak
tangan kirinya.
Aku segera memeluknya, darah berceceran di
segujur bajuku.
‘Oppa, ini bunga mawar putih kesukaan Oppa
dariku. Tanda aku mencintaimu,
Ini yang pertama dan terakhir aku memberikannya
untukmu. Karena aku tahu, mataku akan tertutup
dengan ciumanmu selamanya. Saranghamnida’
tulis ChanRi pada catatan komunikanya.
Catatan terakhir.
Aku menangisi kepergiannya. Aku pergi setelah ini
aku akan bahagia, namun ini terpuruk selamanya.
Akan tetapi, ChanRi telah mengetahui diriku. Dan dia juga mencintaku, sampai matanya tertutup.
Tutup matamu hanya untukku

End♥

Iklan

4 thoughts on “[FanFiction] Close Your Eyes

  1. huwahhh keren bgt FF nya, FF nya bikin merinding, bikin menguras air mata. tragis bgt endingnya, junho oppa ϒɑ̲̮̲̅͡ñԍ sabar ya T.T
    daebak daebak 🙂 (y)

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s