[FanFiction] BODE

image



BODE
Cast: Park Bo Young
Song Joong Ki
Nichkhun Buck Horvejkul
Genre: Fantasy-Detective
Rate: General
Author: Adeladin

PROLOG
Saat aku tiada aku bangkit demi dirimu. Cinta pertama yang membawaku sampai titik paling akhir.

ㅠㅠㅠ

Park Bo Young meratapi makamnya sendiri. Menatapi tanpa tangisan yang ditunjukan dari sanak keluarga. Ia menatapi tugu kematian itu sama seperti kekasihnya manatap. Tanpa kesedihan. Datar. Seolah yang menangis hanyalah luka batin yang mengorek lebih dalam lagi. Kini  semenyedihkannya dia dibebani rasa dendam yang membuatnya harus berjuang yang bukan tempatnya lagi. Berjuang mendapatkan keadilan yang sepertinya tak akan sebanding dengan kematiannya. Atas izin malaikat pembuka pintu, dirinya kembali ke dunia.  Mencoba membereskan rasa dendam, atas pesuruh sang pencipta. Demi keadilannya sendiri. Menghentikan waktu sampai kapan pun bukan kehendak Bo Young dan takdir melainkan kehendak seorang pembunuh.

ㅠㅠㅠ

Sungai Han, 12 Desember, 2013 10.35KST

Gadis itu duduk dengan beralaskan kerikil. Mantelnya yang cukup tebal terus menenggelamkannya dalam kehangatan. Suhu udara saat ini sampai -6° celcius. Rambutnya yang hitam legam tersapu angin pelan. Matanya mengerjap dan dan melihat arloji yang terikat di pergelangan tangan kirinya. Seseorang yang ditunggunya, seharusnya datang 30 menit yang lalu. Namun, sampai detik berikutnya tak kunjung ia jumpai.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Suara keibuan terdengar di indra pendengaran gadis itu. “Aku pikir kau akan sibuk dengan persiapan pernikahanmu.”

“Ommonim!” Seru Bo Young saat melihat Ibu tirinya, yang akan menjadi mertuanya dalam jangka waktu sebulan lagi.

Wanita itu mendengus dengan kesal, matanya sarat akan dendam. “Sepertinya, aku muak mendengar kau memanggilku seperti itu.” Cetusnya dengan pakaian serba elegant; Syal berwarna violet dipadukan blazer coklat serta celana bahan berwarna putih bersih.

Bo Young bersikap seolah tidak mendengar kata itu. Ia tahu betul, calon mertuanya itu tidak pernah menyukainya apalagi menyayangi seperti anak sendiri. Wanita itu selalu mengingat kejadian saat Ibu Bo Young menikah dengan suaminya, yang merupakan ayah dari calon suami Bo Young dan ayah tirinya. Bo Young selalu menyesal telah terlahir. Namun, dirinya selalu bahagia bahwa saudara tirinya itu mencintainya. Cinta pertamanya yang segera berlabuh pada cinta terakhirnya di altar.

“Maafkan aku. Aku yang salah.”

“Memang kau yang salah. Karena kau laki-laki yang aku cintai menikah dengan pelacur seperti Ibumu itu!” Hentak wanita itu yang di sebelah kanan kirinya membawa bodyguard.

Bo Young langsung melangkahkan satu kakinya, tangannya mengepal menahan emosinya. “Kau boleh mencaciku dan menghinaku. Tapi jangan sekalipun kau menghina ibuku. Karena aku yang salah.”

Wanita itu tertawa hambar. “Ya, memang kau sama saja. Sama-sama mendambakan harta warisan suamiku dengan menikah bersama Joong Ki. Aku tahu kau ingin menginginkan itu.”

Air mata Bo Young mulai keluar setetes dua testes di ujung matanya.

“Ini untukmu!” Ia melemparkan sebuah koper berisikan uang tepat mendarat di kaki Bo Young. “Batalkan pernikahanmu dengan anakku, Joong Ki. Pergi ke suatu tempat kalau perlu keluar negeri dengan uang milyaran won itu. Aku tahu kau hanya menginginkan itu, sehingga segala hal kau halalkan walau kau tahu Joong Ki adalah saudaramu.” Wanita itu melangkah mendekat Bo Young.

Bo Young mematung detik kemudian ia menjatukan lututnya di krikil kecil. “Ommonim! Aku mohon! Jangan menyuruhku untukku meninggalkan Joong Ki. Aku tidak menginginkan hartamu harta ayahku harta Joong Ki dan seluruh harta di dunia ini. Yang aku butuhkan hanya hidup bersama Joong Ki. Aku mohon! Aku tidak ingin meninggalkannya.” Bo Young berlutut memegangi pergelangan kaki ibu tirinya.

Mata wanita itu merah padam. Emosinya sudah memuncak di ubun-ubun kepalanya. “Aku tidak peduli! Dan biarkan aku hidup tenang tanpa adanya kau. Kau yang bersalah, jadi kau harus menebusnya dengan ini. Tinggalkan Joong Ki! Atau aku akan….” Kalimatnya terputus saat semakin meningginya suara.

Bo Young menggeleng dengan keras dengan posisi terus berlutut meminta permohonan. “Aku tidak mau meninggalkan Joong Ki. Aku mencintainya, Ommonim! Aku tidak akan pernah meninggalkannya.”

Wanita itu menguasai dirinya lalu menangguk. “Kau tidak ingin meninggalkannya? Baiklah. Aku… mengerti.” Wanita itu menendang Bo Young keras hingga gadis malang itu tersungkur diantara kerikil kecil.

Bo Young kembali bersujud pada wanita yang keras hatinya. Matanya sudah menjatuhkan ratusan air mata. “Maafkan aku. Aku tidak bisa meninggalkan Joong Ki.” Isaknya dengan nafas yang mulai terengah-engah.
Bo Young memiliki riwayat penyakit sesak nafas sejak kecil sehingga saat ia menangis sampai sedemikian teriskanya, sakit itu akan muncul.
Gadis itu terus bersujud walau nafas tak dapat memompa lagi.

“Mati saja kau!” Cetus wanita itu yang mengeras rahangnya.

“Aku… mohonnnn… ambilkan aku…. oksigen… di tas.” Bo Young tak kuasa.

Wanita itu menendang gadis itu kembali tersungkur dengan keadaan yang lebih mengenaskan. Bo Young mengayunkan tangan kanannya memohon bantuan dan kirinya memegang dadanya. Nafasnya semakin menipis. Penglihatannya mulai kabur dan gelap.

Wanita itu menelan air liur susah payah saat melihat gadis itu pingsan. “Ambil oksigen di dalam tasnya. Dan tenggelamkan gadis ini.” Titah sang majikan pada kedua bodyguard-nya itu dengan santai namun, getaran tubuhnya begitu kentara.

***

Sungai Han, 13 Desember 2013 Pukul 14.00KST
Park Bo Young ditemukan tewas tepat di dasar Sungai Han. Kasus di tutup dengan pernyataan bahwa Bo Young meninggal karena sesak nafas yang membuatnya tercebur dari atas jembatan.

ㅠㅠㅠ

Pikiran Bo Young hanya pada hitungan hari. Entah sudah berapa hari ia meninggal dan kembali bangkit dari alam yang semestinya. Matanya melihat seorang pemuda yang tertidur pulas. Lekuk wajah pemuda yang selalu membuat Bo Young tersenyum sedari kecil. Seluruh wajah itu dapat Bo Young lukiskan sendiri tanpa melihatnya, karena sangat hapalnya keberadaan airmuka itu.
“Joong Ki,” bisik Bo Young lirih. “Song Joong Ki. Apakah kau mendengarku?” Lanjutnya lembut seperti ada yang tertahankan. “Aku merindukanmu.” Yang tertahankan pun kini tak bisa lagi terbendung.
Bagaimana ini, bahkan saat ia menjadi makhluk kasat ini Bo Young masih bisa menangis, menangis sampai terisak. Namun, sakit sesak nafas itu hilang. Ia mengerti, Tuhan tidak akan membunuhnya untuk yang keduakalinya.
Bo Young terduduk di depan nakas seraya memeluk kedua kakinya kemudian menangis. Menumpahkan segala emosinya. Emosi yang tak berdaya. Melihat pujaan hatinya kembali hanya dapat membuatnya menumpuk dendam.
“Tuhan.  Kau terlalu kejam untukku. Untukku yang tak berdaya. Tidak seharusnya Kau memberi rasa dendam untukku. Aku tidak mau menumpuk terlalu banyak dendam di dunia. Bunuh aku sekali lagi, Tuhan. Agar aku tidak dapat melihatnya lagi. Semakin aku melihatnya, semakin ia akan tersakiti.” Isak Bo Young dalam subuh mendapati dirinya tak terbayang dan kasat.
Kemudian ia melemparkan pandang pada Joong Ki di sampingnya. Semakin lekat, ia mendapati air mata muncul di ujung mata Joong Ki. Bo Young memejamkan matanya. Dan menghilang.

ㅠㅠㅠ

Joong Ki memasuki Kantor Kejaksaan di mana ia bekerja. Sebagai jaksa membuatnya sangat gagal mengadili hidup. Hidupnya dan orang yang ia cintai. Beberapa hari belakangan ini, matanya selalu sembab saat berangkat ke Kantor dan membuat rekan kerjanya bertanya-tanya.
“Kau sedih?” Tanya seseorang saat itu.
“Aku tidak sedih. Aku mengecewakan diriku sendiri. Itu sebabnya, diriku lah yang sedih. Bukan aku.”
Joong Ki sedang berdalih menarikan jemarinya di atas komputer. Alih-alih mencari sesuatu di laci. Ia mendapati sebuah potret. Potret polaroid yang di abadikan sepuluh tahun silam.   Sepasang anak kecil tak mengerti dosa sedang duduk di sebuah ayunan.
Rahang Joong Ki mengeras. Dan mengepal potret itu dengan geram. Matanya mulai menghangat, sampai potret itu benar-benar rusak. Potret dirinya dan Bo Young.

***

Untuk berapa kali Bo Young harus meneteskan air matanya saat melihat Joong Ki. Melihatnya dengan segala aktifitas setelah ketiadaannya.  Aktifitas yang membuatnya merasa ia tidak pernah pantas bersama Joong Ki. Dengan langkah gontai Bo Young berjalan menuju pintu dan menembusnya.

***

Di pelataran yang tinggi dengan puluhan anak tangga tepat di depan kantor kejaksaan. Suasana hujan, deras. Bo Young hanya menikmati hujan ini yang tidak akan pernah ia lihat kembali saat kembali ke baka. Namun, kini pertanyaannya adalah bagaimana ia kembali ke sana? Otak Bo Young benar-benar buntu saat memikirkan bagaimana caranya ia dapat mengatasi keadilannya sendiri. Seseorang seperti Joong Ki yang notabenenya adalah penegak keadilan saja tidak bisa. Bagaimana dengan dirinya. Seorang yang bisa dianggap sebagai makhluk halus ingin mencari keadilan? Pikirannya terus beputar mencari cara yang begitu penatnya di pikiran. Pikiran kecil seorang hantu, kurang lebih.
Sampai seseorang berdiri di sampingnya. Mengenakan jaket hitam berbahan kulit.
Bo Young hanya terdiam menyibukan dirinya kembali pada tetesan air hujan yang menembusnya. Ia tahu pemuda yang ada di sampingnya ini tidak akan melihatnya.

***

Mata pemuda itu melihat gadis di sampingnya. Memakai dress putih lengan panjang selutut.
“Apa yang sedang kau lakukan di kantor kejaksaan seperti ini?” Tanya pemuda itu sambil memasukan tangannya ke dalam saku celana. Menahan dingin dari hujan yang menggantikan salju di siang hari.
“Tidak ada.” Saut Bo Young ringkas. Sampai beberapa saat ia menyadari. Menyadari pemuda ini dapat melihatnya. Apa maksudnya ini? Mata Bo Young meneliti menatap pemuda itu. “Kau dapat melihatku?” Tanya Bo Young tak habis pikir.
Sejenak pemuda itu mengalihkan pandang menuju tangan Bo Young yang mengarah pada tetesan air hujan. Air itu tidak membendung di telapak tangan gadis itu. Melainkan terus menetes seolah tidak ada yang menghalangi. “Jadi kau…”
“Kau akan menganggap aku ini hantu?” Bo Young berkata memundurkan satu langkahnya.
Pemuda itu menelan ludah dengan susah payah begitu mendapati ia lagi-lagi bisa berkomunikasi dengan makhluk yang tidak diakui keberadaannya di mana saja. Sekilas ia tersenyum. Ini adalah takdirnya. Takdir yang diberikan Tuhan untuknya. Mungkin; bisa jadi, ini adalah tugasnya terhadap Tuhan. Tugas seorang manusia setengah dewa. “Sudah hampir lima tahun aku tidak melihat bangsamu.” Saut pemuda itu.
“Kau sering melihat hantu sepertiku?” Tanya Bo Young lagi tertegun dengan pernyataannya.
Pemuda itu cepat menggeleng. “Tidak. Hanya makhluk sepertimu lah yang bisa aku lihat. Bukan hantu.”
“Aku bukan hantu?”
Pemuda itu terkekeh dan matanya hanya segaris. Alisnya tebal dan perawakannya sempurna. “Kau bukan hantu. Kau adalah seseorang yang meminta keadilan di dunia ini atas kematianmu.”
“Kau tahu itu?”
“Tentu saja. Sudah puluhan kali aku melihat makhluk dari bangsamu itu. Dan selalu menjadi kasus yang sama. Mencari keadilan di dunia ini.”
“Jadi, kau siapa?” Berkali-kali Bo Young menanyakan yang sungguh tak dapat di nalarnya.
“Aku manusia setengah dewa. Kau tahu, aku masih keturunan Malaikat.” Pemuda itu berkata dengan bangga.
“Malaikat? Yang benar saja.” Kini Bo Young tampak tidak percaya. Bagaimana seorang malaikat dapat memiliki keturunan. Sampai sekarang pun ia hanya percaya bahwa pesuruh Tuhan itu ada, dan bekerja hanya untuk Tuhan.
“Kau sungguh tidak percaya?” Pemuda itu mengerutkan dahinya.
Bo Young seolah ragu dengan pikirannya. Ia merasa tidak bisa menpercayai semua insan di dunia ini.
“Akan aku tunjukkan padamu.” Kemudian pemuda itu memeluk Bo. Young. Yang di peluk hanya membulatkan mata. Selama ini, Bo Young hanya pernah di peluk Ibunya dan Joong Ki. Namun, sekarang? Seorang pemuda yang mengaku dirinya adalah manusia setengah dewa memeluknya.
Lalu, pemuda itu menghilang. Membawa Bo Young di dalam pelukannya ke sebuah taman.

***

Bo Young membuka matanya. Dan pemuda itu sudah menjauhkan dirinya dari perawakan Bo Young. Benar saja ia kini berada di sebuah taman. Taman yang indah dengan di pinggirnya terdapat sungai buatan.
“Kau sekarang percaya bahwa aku termasuk dari utusan Tuhan. Lebih tepatnya pesuruh malaikat. Yang memberi kepercayaan untukku membantu setengah manusia sepertimu.”
Bo Young masih tertegun-tegun. “Jadi, kau mau membantuku?”
Pemuda itu terdiam sesaat. “Sudah hampir lima tahun aku tidak berjumpa dengan manusia sepertimu. Aku tidak yakin.”
“Apakah kau tidak di perintahkan malaikat?”
“Mereka tidak pernah memerintahku. Jadi, mereka hanya mengangguk setelah aku selesai membantu manusia itu.”
“Kau tahu aku ini terbunuh.”
“Tidak usah susah payah menceritakan hal itu. Aku sudah mengetahuinya. Lusa kau ditemukan tewas di Sungai Han dan kasus di tutup bahwa kau meninggal karena sesak nafas.”
Bo Young mengangguk. “Bantulah aku. Aku sungguh tidak ingin ada di dunia ini lagi.”
Pemuda itu paham. “Baru kali ini ada setengah manusia sepertimu tidak ingin ada di dunia ini lagi. Hampir semua kasus yang sudah aku selesaikan mereka tetap ingin berada di dunia ini. Bersama orang yang mereka cintai. Itu sebabnya, betapa sulitnya aku membujuk mereka untuk kembali ke alam mereka setelah palu keadilan terketuk di meja hakim. Membujuk mereka sampai seperti membujuk anak kecil yang dijanjikan membeli lolipop saat sampai di rumah.”
“Tapi, sungguh. Aku ingin kembali saja. Surga atau neraka. Yang penting aku tidak ingin menambah dendam di dunia ini.” Bo Young yakin.
Pemuda itu menghadap Bo Young dan mengeluarkan sebuah ID Card dari saku jaketnya. ID Card kepolisian. “Serahkan kasusmu padaku. Aku akan membantumu.”
Nama yang tertera di sana adalah Nichkhun dan bagian pekerjaannya adalah Reserse Kriminalitas. Dan berarti dia adalah seorang detektif. Bo Young mulai mempercayai pemuda yang bernama Nichkhun tersebut. Ini adalah jalan satu-satunya untuk kembali ke dunianya.
“Kau percaya padaku kan?” Nichkhun bertanya.
“Aku akan percaya padamu. Hanya kau yang bisa membantuku.”
“Syukurlah kau adalah setengah manusia pertama yang mempercayaiku. Dari puluhan makhluk itu, mereka tidak percaya denganku. Sampai akhirnya aku benar-benar mengumpulkan bukti. Di situlah letak kesulitannya. Menemui mereka yang sama sekali tidak mempercayai dunia lagi. Karena ketidakadilan itu sendiri.”

ㅠㅠㅠ

Bo Young menatap Ibunya yang tengah melihat sebuah gaun putih panjang. Gaun hadiah untuk pernikahan Bo Young. Seharusnya begitu, namun sebelum Ibunya memperlihatkan itu pada putrinya. Yang terjadi hanyalah sia-sia. Putrinya tidak pulang pada hari itu dan keesokan harinya ditemukan membangkai di sungai Han. Perempuan setengah baya itu hanya menangis setiap malamnya. Menangis sesuai yang dia mau saat mengingat gadis malang itu. Sampai sekarang saat pasokan air matanya habis. Ibunya terus mengelus gaun itu.
“Aku yakin kau tidak akan lupa menbawa oksigenmu.” Lirihnya.
Bo Young melangkahkan kakinya. Ingin sekali rasanya ia memeluk perempuan yang sudah membesarkannya itu. Namun, raganya tak lagi mampu.
“Ibu, aku akan mengungkap yang sebenarnya. Tunggu saja.”
Tak lama pintu terketuk. Perempuan itu bangkit dan mengelap sisa air matanya.

***

Nichkhun mengetuk pintu rumah itu. Seorang wanita paruhbaya keluar dengan memakai cardigan berwarna pastel.
“Selamat siang.” Tunduk Nichkhun.
Ibu Bo Young hanya mengangguk dan melemparkan tatapan bertanya-tanya pada pria asing yang ada di hadapannya.
Kemudian seperti membaca pikiran, Nichkhun memperlihatkan tanda pengenal. “Aku dari kepolisian distrik Gangnam.”
“Ada yang bisa aku bantu?”
Mata Nichkhun melihat Bo Young yang berada di samping Ibunya. Lalu Bo Young tersenyum kecil.
“Beberapa hari lalu ditemukan seorang gadis di dasar sungai Han. Bernama Park Bo Young, apakah itu putri anda?” Tanya Nichkhun tegas.
Mata sang Ibu menghangat seolah ada yang mengeruak kembali di dalam batinnya. “Putriku. Kau pasti sudah tahu kalau kasus itu sudah di tutup. Untuk apa kau ke sini? Putriku mati sia-sia. Untuk apa naik banding lagi setelah kasus ini selesai. Biarkan gadisku tenang di alamnya.” Elak perempuan itu.
“Apakah kau yakin Bo Young meninggal karena sesak nafas dan tidak membawa oksigennya?” Tanya Nichkhun detail.
“Aku yakin. Dari hasil data forensik juga seperti itu.” Nada Ibu Bo Young mulai bergetar.
“Baiklah. Bo Young tidak membawa oksigen saat itu. Apakah kaleng oksigen itu tertinggal?”
“Aku tidak tahu. Seingatku, Bo Young tidak pernah melupakan benda itu.” Ibunya merasa yakin.
“Izinkan aku untuk mengungkap kasus ini. Banyak sekali kejanggalan.”
“Kejanggalan?”
“Ya. Boleh aku memeriksa kamar Bo Young?”
“Jika benar kasus Bo Young bukan kematian biasa. Aku mohon ungkap semuanya.”

ㅠㅠㅠ

Ketika Nichkhun mulai melangkahkan kaki di kamar Bo Young. Ia melihat sebuah gaun putih suci dan beberapa kemilauannya tergantung di pintu lemari tersebut. “Ini gaun milik Bo Young?” Tanyanya ragu.
Ibu Bo Young duduk berlutut di ambang pintu. Tatapannya kosong. “Iya. Itu miliknya. Untuk pernikahannya bulan depan. Seharusnya.”
“Lalu siapa calon mempelai pria?”
“Dia adalah anak tiriku. Cinta mereka begitu sejati. Sampai aku rela mendapatkan cacian dari Ibunya. Ibunya adalah istri pertama suamiku.”
“Mereka saudara satu ayah?”
“Bukan. Aku telah mengandung Bo Young saat aku bekerja di rumah suamiku. Sampai akhirnya aku di nikahkan olehnya. Seorang pengusaha kaya raya yang ingin menikah denganku atas rasa ingin menutupi nama baik dirinya. Bukan karena mencintaiku.” Perjelas wanita berkepala 40 tahunan itu.
“Jadi Bo Young?”
“Aku diperkosa.” Air matanya dan terbendung lagi dan memukul dadanya sendiri. “Bo Young dilahirkan tanpa kasih sayang. Dia adalah gadis termalang. Gadis yang banyak menerima cacian sampai ia lulus SMA. Teman-temannya selalu mengatakan bahwa dia adalah anak haram. Namun, hidupnya kuat karena saudara tirinya.” Kemudian ia menunjuk sebuah pigura di nakas samping tempat tidur Bo Young.
Nichkhun mendekat ke arah pigura itu sampai benar-benar melihat siapa pemuda yang berada di samping Bo Young. “Jaksa Song.”
“Kau mengenalinya?”
“Tentu saja. Beberapa kasus yang telah aku selesaikan selalu menghadap Jaksa Song sebagai penuntut umum.” Perjelas Nichkhun lagi. “Kapan Jaksa Song terakhir kali bertemu dengan Bo Young?”
“Hari itu. Saat Bo Young meninggalkan rumah. Gadis itu sangat ceria saat ingin bertemu Jaksa Song. Namun, aku tidak menyangka. Itu adalah senyumannya yang terakhir.” Isak Ibu Bo Young memukul lantai.
Pikiran Nichkhun cepat tanggap dan matanya mencari Bo Young. Namun, makhluk itu dia tidak temui di seluruh ruangan.
“Apa yang kau cari?” Tanya Ibu Bo Young kemudian berdiri melihat Nichkhun yang mengarahkan pandang kesana-kemari.
Tatapan Nichkhun kembali. “Oksigen. Apa Bo Young meninggalkan kaleng oksigen itu di kamarnya?”
“Seharusnya begitu. Namun, aku tidak menemukannya. Entah di mana ia menaruhnya. Atau kemungkinan besar oksigen itu hilang. Itu sebabnnya ia tidak memegangnya pada saat kejadian itu.”
“Bisa kau memberikan resep oksigen yang biasa Bo Young beli?”

ㅠㅠㅠ

Di pesisir sungai Han. Nichkhun dan Bo Young terduduk. Nichkhun yang sibuk dengan minuman sodanya dan Bo Young yang sibuk menatap tempat terakhir hidupnya. Dibiarkan bernafas terengah-engah. Seperti memohon pengampunan dosa. Memohon yang seharusnya ia miliki. Tak sempat ia katakan selamat tinggal pada Joong Ki sampai gadis itu benar-benar mati di tangan calon mertuanya sendiri. Ia kembali menangis menatap batu kerikil di hadapannya.
Nichkhun mengambil nafas berat sampai ia benar-benar membuangnya. “Kau menangis lagi?”
Tak ada jawaban. Hanya ada isakan kepedihan.
“Kau di bunuh ibu tirimu sekaligus calon mertuamu. Benar-benar kasus yang menarik.” Ungkap Nichkhun kembali.
“Jika semua telah teradili. Aku akan segera kembali kan?” Tanya Bo Young dengan tatapan kosong.
Nichkhun mengalihkan pandang pada gadis di sampingnya itu.
“Aku mohon cepat tuntaskan kasus ini. Aku tidak tahan lagi.”
Nichkhun tertunduk dan mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. “Ini benda milikmu kan?” Ia menunjukan sebuah foto kaleng oksigen yang biasa Bo Young miliki.
Bo Young mengangguk.
“Kau tahu sekarang benda ini di mana?” Bergantian kini Nichkhun mengintrogasi Bo Young.
Sekarang Bo Young menggeleng. “Seharusnya kau yang tahu.”
“Aku hanya mengatahui kejadian-kejadian yang kau jalani. Setelah kau meninggal, aku tidak tahu apa-apa lagi.” Ringis Nichkhun.
“Waktu itu aku membawanya di dalam tasku. Tapi, aku tidak tahu lagi benda itu di mana.  Kemungkinan di buang.”
“Dan kemungkinan masih disimpan oleh Ibu tirimu.”
“Kau yakin?”
“Setidaknya aku sudah menemukan satu bukti ini. Mungkin aku bisa membawanya ke pengadilan hari ini. Dan kau, carilah di rumah Ibu tirimu itu. Agar cepat kasus ini selesai.” Jelas Nichkhun dan beranjak dari duduknya.

ㅠㅠㅠ

“Untuk apa kau mengijakan kaki di rumahku?” Tanya Ibu Joong Ki dengan geram kepada wanita tak berdaya di hadapannya.
“Aku tahu. Putriku bukan meninggal karena sesak nafas biasa.” Ucap Ibu Bo Young bergetar menahan emosi dengan pandangan kosong di ambang pintu.
“Aku tidak peduli. Biarkan dia mati. Biarkan hidup aku dan Joong Ki tenang tanpa dirinya dan dirimu.”
“Sebelum ia meninggalkan rumah ia berkata ingin bertemu dengan putramu. Sekarang biarkan aku menemuinya. Biarkan aku memberi pelajaran untuknya. Biarkan aku ingin bertanya mengapa ia tidak menjaga Bo Young dengan baik. Ia pernah berjanji untuk menjaga Bo Young. Aku ingin meminta pertanggungjawabannya!” Nada wanita itu semakin memuncak.
“Pertanggungjawaban? Apa maksudmu? Kau meminta pertanggungjawaban Joong Ki atas ketidaksalahannya? Kau betul-betul tidak berubah! Kau sama saja seperti 25 tahun yang lalu. Meminta pertanggungjawaban suamiku yang tidak bersalah.”
Kedua wanita itu terlibat emosi yang berada di puncak ubun-ubunnya.
Kemudian Ibu Bo Young melangkah masuk dengan gagah namun terhalang oleh maduannya.
“Aku ingin mencari Joong Ki!” Teriak Ibu Bo Young.
“Untuk apa? Kau tidak berhak menginjakan kaki di rumah ini lagi! Kau tidak berhak menghakimi seorang jaksa!” Ia mendorong Ibu Bo Young sampai tersungkur di lantai.
“Sampai kapan pun aku akan tetap menuntut Joong Ki dan dirimu!”
“Kau hanyalah wanita murahan. Wanita yang menikahi suamiku atas dasar kesempatan dan harta. Dan kau pantas mendapatkan itu! Kau tidak pantas menuntut aku dan Joong Ki! Karena kau tidak punya bukti apa-apa tentang kematian anakmu sendiri! Park Bo Young sudah mati! Dan dia tidak akan hidup lagi untuk menolongmu!” Tangan Ibu Joong Ki menjenggut rambut wanita yang masih tersungkur di lantai.
“Lihat saja nanti! Aku akan mengungkapkannya!” Mata Ibu Bo Young memerah bibirnya bergetar dan nafasnya tertahan.
“Pergi kau dari rumahku!” Ibu Joong Ki menyeret wanita itu menuju gerbang.

***

“Ibu! Ini salahku! Ini salahku! Untuk apa kau membelaku! Ini salahku!” Isak Bo Young yang menyaksikan kejadian itu. Ia memukuli dirinya sendiri sambil berjongkok di ujung taman. “Tuhan untuk apa kau melahirkanku. Untuk apa kau menghidupkanku! Untuk apa kau mematikanku! Dan untuk apa kau memberikan aku dendam dunia ini?” Teriaknya kembali. “Ibuku tidak bersalah. Aku yang salah. Aku yang salah!” Gadis itu terus terenyuh dengan tangisannya sampai ia tak dapat lagi berdiri tegak. Dan menghilang.

ㅠㅠㅠ

Ibu Joong Ki ke kamarnya dengan langkah gontai. Membuka sebuah nakas di samping ranjangnya. Tangannya bergetar ketika mengambil sebuah kaleng oksigen milik Bo Young. Ia menelan ludah susah payah menatap benda itu. Nafasnya mulai tercekat sendiri dan ia memegangi dadanya. “Tidak ada yang boleh menemukan benda ini. Tidak boleh!”
Bo Young yang menyaksikan itu hanya bisa menggeleng lemas. Sudah ia duga, bahwa benda itu ada di tangannya. Tangan keji. “Sebentar lagi Ommonim.” Lirih Bo Young.
“Aku tidak membunuhmu Park Bo Young. Kau yang sakit! Aku tidak membunuhmu! Aku benar, aku tidak membunuh gadis itu!” Lalu Ibu Joong Ki tergeletak di kamar dengan memeluk kakinya yang terlekuk. “Aku tidak akan masuk penjara! Itu tidak mungkin!!!” Histerisnya seorang diri sampai melemparkan kaleng oksigen itu pada cerminnya hingga pecah.
“Maafkan aku. Ommonim.” Ucap Bo Young dan menghilang.

ㅠㅠㅠ

Nichkhun melemparkan selembar foto di meja Joong Ki. “Kau tahu benda itu?”
Joong Ki langsung menatap Nichkhun tanpa memperhatikan foto yang ada di depannya itu. “Kasus apa lagi ini?” Joong Ki tak mengerti.
“Perhatikan foto itu! Kau pasti tahu benda apa dan milik siapa.” Nichkhun menghiraukan pertanyaan Joong Ki.
Joong Ki mengambil foto itu dan menatapnya lekat. Benda itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang hampir setiap malamnya ia mimpikan. Gadis yang selalu tersenyum lemah.
“Kau pasti tahu benda itu.” Ucap Nichkhun santai.
“Aku pikir kasus ini sudah ditutup sejak tiga hari yang lalu.”
Nichkhun mendengus. “Bagaimana aku bisa menutupnya jika aku menemukan kejanggalan.”
“Kejanggalan?”
“Barang itu tidak ditemukan di tempat kejadian perkara. Dan juga tidak ditemukan di rumah korban. Apakah itu barang itu hilang atau entah kemana. Aku masih menyelidikinya. Aku mohon kau membantu kasus ini.”
“Aku tidak mau.” Tungkas Joong Ki seraya melemparkan foto itu. “Kasus ini sudah ditutup. Dan kau tidak memiliki bukti yang cukup kuat. Hanya selembar foto dari kaleng oksigen itu. Bahkan banyak orang yang memiliki resep oksigen yang sama.”
“Setidaknya kita bisa menemukan sidik jari dari kaleng oksigen itu.”
Joong Ki menatap Nichkhun tajam.
“Kenapa kau menolak untuk kasus ini? Apakah kau tidak mengingkan keadilan untuk calon istrimu sendiri? Apakah begitu cepatnya kau melupakan gadis yang selama bertahun-tahun bersamamu? Park Bo Young tidak akan tenang di sana jika kematiannya hanya dianggap kematian biasa orang yang mengidap sesak nafas.” Nichkhun mulai berapi-api di ruangan Joong Ki.
Rahang Joong Ki mengeras tangannya mengepal kuat. “Ini bukan urusanmu!”
“Baiklah ini memang bukan urusanku! Tapi satu yang harus kau ketahui kau tidak bisa mengadili dirimu sendiri. Dan kau tidak profesional atas pekerjaanmu!” Tunjuk Nichkhun.
“Pergi kau dari sini!” Teriak Joong Ki dengan rasa terpojok dengan perkataan Nichkhun.
“Segera. Karena pengadilan sudah menerima satu bukti itu. Tinggal kita lihat siapa di balik ini. Jaksa Song.”  Nichkhun melangkah mundur dan keluar dari ruangan itu penuh kemenangan.
Joong Ki mengerang keras dan memukul tembok yang berada di belakangnya. Tatapannya nanar. Pikirannya berkecamuk misteri.
“Seharusnya ini sudah berakhir!” Geramnya bergetar.
Kemudian ia duduk dan memijat dahinya. Semuanya harus ia mengungkapkan keadilan ini cepat atau lambat. Dengan begitu ia akan mengetahui dalang di balik peristiwa yang sampai detik ini tidak pernah mangkir dari pikirannya yang keras. Peristiwa, gadis yang amat ia cintai pergi meninggalkannya tanpa sekata pun. Tanpa ucapan selamat tinggal. Dan membiarkan dirinya tersiksa tangisan batin disetiap malam tidurnya yang kelam.
Joong Ki mengingat saat gadis itu memanggilnya. Memanggilnya sepenuh hati tanpa minta dikasihani. Ia pun mengambil sebuah pigura di laci kerjanya. Pigura yang sudah beberapa hari lalu ia kubur di laci itu. Pigura saat ia mencium pipi Bo Young. Masih rasa yang sama, selalu bergetar hatinya saat melihat gadis itu. Walau hanya foto kenangan masa lampau.

ㅠㅠㅠ

“Ibu! Aku pulang!” Seru Joong Ki saat memasuki rumahnya. Namun, tak ada jawaban. Yang ia dapati hanyalah senyuman dari beberapa pembantunya.
Belum sempat ia bertanya pada pembantunya itu, ia bergegas melangkah menuju kamar Ibunya. Mencari wanita yang melahirkannya atas izin Tuhan.
“Ibu.” Panggil Joong Ki saat masuk ke dalam kamar itu. Namun, tak seorang pun ia temui. Yang ia lihat hanya meja rias yang begitu mewah berada di sana. Ia mengerutkan dahi. Baru kali ini ia melihat meja rias itu di kamar Ibunya. Benda itu baru.
Ketika Joong Ki hendak kembali namun matanya mendapati sesuatu yang tak biasa ia temui. Barang baru yang ada di sebuah rak tas milik Ibunya. Benda itu berwarna putih berbentuk tabung. Ia mendekat dan memperhatikan benda itu. Matanya terbelalak saat mendapati inti dari benda itu. Ia menggeleng cepat. “Tidak mungkin ini milik Bo Young!” Sergahnya. Lalu ia dengan cepat mengambil sebuah kantung plastik bening dan memasukan benda itu ke dalamnya tanpa memegangnya dengan lekat. Agar sidik jari itu tidak hilang begitu saja.
Joong Ki lari keluar rumahnya dan menggas mobilnya tanpa ampun.

ㅠㅠㅠ

“Mengerjakan kasusmu membuatku kelaparan.” Ungkap Nichkhun dengan semangkuk Jjajangmyun di hadapannya tanpa mengadahkan kepala melihat Bo Young yang ada di depannya. Sibuk dengan mie hitamnya itu.
“Ini sebentar lagi bukan?” Tanya Bo Young melihat ke arah luar kaca yang sudah menurunkan saljunya.
Nichkhun mengangkat kepalanya mempethatikan gadis itu dengan wajah sendu dan keputusasaan. Tiada lagi masa depan. “Tinggal kita tunggu saja. Jaksa Song akan menemukan benda itu dengan sendirinya.”
Hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Yang ada hanyalah suara sumpit yang dipegang Nichkhun. Ia sudahi makannya dengan santai. Kemudian sekali lagi ia masih melihat Bo Young yang sepertinya tinggal menunjukan ajalnya yang kedua kali.
Nichkhun berdeham guna mencairkan suasana. “Berapa usiamu?”
“24 tahun.” Saut Bo Young ringkas.
“Kau masih sangat muda.”
“Lalu kau?” Bo Young mulai menatap Nichkhun yang menghindari kontak mata dengannya.
“Aku?” Ia menunjuk dirinya sendiri.
Bo Young menangguk. “Jangan bilang kau sudah hidup ribuan tahun.”
“Memang.” Dengan santai Nichkhun membenarkan.
“Dengan profesi dan tampang seperti ini?” Tanya Bo Young kalem.
Ia mendengus dan tersenyum miring. “Tidak. Setiap kali aku diturunkan di bumi dengan profesi yang berbeda dan dengan wajah baru pula. Setiap aku kembali menghadap malaikat mereka hanya menyuruhku menceritkan semua hal di dunia. Tentang manusia dan alam. Manusia dengan moral yang menipis dan alam yang semakin punah.
Bo Young memiringkan kepalanya, arti obrolan mereka yang semakin menarik. Di luar nalar manusia hidup pada umumnya. “Dengan profesi dan wajah seperti ini kapan kau akan mati?”
Nichkhun menggeleng. “Yang aku tahu saat aku tidak bisa melakukan apa-apalagi. Seperti bertransformasi atau melihat kejadian yang pernah di alami makhluk setengah manusia.”
“Jadi dengan wajah begini kau sudah berapa lama hidup?” Bo Young penasaran di sisa hidupnya itu.
“15 tahun.” Saut Nichkhun yakin.
“Dengan wajah tidak berubah?”
“Yap.” Nichkhun mengangguk.
“Hebat!” Bo Young bertepuk tangan akibat kekagumannya dengan kuasa Tuhan. Bahkan,  tak dapat bisa ia nalar sebelum dirinya menjadi seperti ini.  “Kau suka dengan profesimu menjadi detektif saat ini?”
Nichkhun menerawang. “Dari semua profesi yang sudah pernah aku lakukan. Profesi di kriminalitas lah yang paling aku sukai. Aku pernah menjadi jaksa, polisi pengamanan dan lainnya. Tapi yang paling aku suka adalah profesi saat ini. Karena profesi ini sangat mudah menolong kasus-kasus dunia seperti makhluk setengah manusia semacam dirimu.” Nichkhun tersenyum menceritakan pribadi dirinya di depan makhluk itu. “Hanya satu yang tidak aku sukai saat aku menjadi detektif. Masyarakat awam selalu mengatakan bahwa kriminal dan detektif tidak ada bedanya.”
“Aku juga pernah berpikiran seperti itu. Karena aku tidak pernah berurusan dengan detektif. Namun, setelah aku menjalani kasus ini. Aku mengerti. Detektif berlaku seperti penjahat karena ingin membela keadilan.” Ungkap Bo Young.
Nichkhun hanya mengangguk dan tersenyum. Beberapa saat ponsel Nichkhun berdering.
“Halo.” Ucapnya saat menjawab panggilan. “Ya?” Ulangnya dengan melirik Bo Young yang melihatnya penasaran. “Baiklah, aku akan segera ke sana.” Lanjutnya menutup panggilan.
“Ada apa?” Bo Young semakin penasaran saat Nichkhun mulai bangkit dari duduknya.
“Jaksa Song datang ke kantor polisi.”
“Untuk apa?”
Tanpa menjawab pertanyaan Bo Young yang bertele-tele Nichkhun cepat berlari menuju mobilnya.
Bo Young yang masih memiliki seribu pertanyaan hanya terdiam melihat Nichkhun yang memasuki mobilnya. Gadis itu kemudian menghilang.

ㅠㅠㅠ

Joong Ki menatap kaleng oksigen yang sedang dalam penyelidikan. Mengambil sample sidik jari itu dengan teliti oleh ketua tim kriminalitas. Lalu Joong Ki melihat Nichkhun yang baru datang dengan nafas terengah-engah.
“Aku kira kau tidak akan datang?” Sambut Joong Ki.
“Bagaimana begitu? Ini kasusku. Bahkan aku tidak bisa tidur memikirkan kasus ini.” Saut Nichkhun santai dan mulai duduk di samping ketua tim yang masih sibuk mengambil sample sidik jari itu.
“Ada tiga sidik jari di sini.” Ucap Ketua Tim menatap Joong Ki dan Nichkhun. “Aku akan segera melacaknya.” Ia kemudian bangkit menyisakan Joong Ki dan Nichkhun duduk berhadapan.
“Dan, aku pikir kau benar-benar tidak akan mengikuti kasus ini.” Nichkhun mulai angkat bicara lagi.
Joong Ki mendesah tertahan. “Bagaimana bisa aku membiarkan kejanggalan yang berada di rumahku.”
“Bahkan untuk orang yang kau cintai sendiri. Kau rela.” Arti ucapan Nichkhun terasa ambigu di pikiran Joong Ki.
Beberapa menit berlalu. Ketua tim kembali dengan menyerahkan lembaran identitas dari sidik jari itu. Nichkhun yang pertama kali melihat lembaran itu hanya tersenyum miring. Sebentar lagi kebenaran akan meluap.
Lalu ia memberinya pada Joong Ki dengan tatapan penuh kemenangan.  Lagi-lagi matanya terbelalak melihat identitas itu. Kemudian tatapannya mengarah Nichkhun tak percaya.
“Sudah aku bilang. Kau rela demi orang yang kau cintai. Demi Bo Young dan keadilan di negeri ini. Kau akan menghakimi Ibu sendiri.” Nichkhun menindas Joong Ki dengan kalimatnya.
Joong Ki masih tercekat dengan sesuatu di hadapannya. Ibunya membunuh calon menantunya sendiri. Lalu matanya berair. Kepalanya menuduk dan terisak. Hatinya bergerumuh emosi. Emosi yang tidak akan pernah ia lupakan. Saat pertama kali mendengar kekasihnya meninggalkannya tanpa kata selamat tinggal.
“Segera keluarkan surat perintah penangkapan untuk tersangka. Bukti sudah cukup kuat dengan adanya saksi dari kedua anak buahnya.” Ucap Nichkhun pada Ketua tim.
“Aku tidak menyangka. Ibunya sendiri yang membunuh kekasihnya.” Ketua Tim menggeleng tragis.
Bo Young yang menyaksikan itu hanya bisa menatap lemah Joong Ki. Baru kali ini, ia melihat Joong Ki menangis seperti itu saat ia telah tiada. “Maafkan aku, Joong Ki ini semata hanya untuk keadilanku. Maafkan aku.”

ㅠㅠㅠ

Ibu Joong Ki dengan perasaan panik mencari benda itu. Kaleng oksigen yang selama ini ia lindungi. Ia meremas-remas tangannya dengan gugup saat tak menemukan benda itu di kamarnya.
“Nyonya, ada tamu di luar.” Lalu pembatunya memasuki kamarnya.
“Siapa?”  Tanyanya dan langsung berjalan menuju pintu rumahnya.
Saat ia membuka pintunya ia melihat empat orang di hadapnnya. Satu di antaranya adalah anaknya sendiri. Song Joong Ki.
“Apa yang kau lakukan dengan tiga orang ini?” Tanya Ibunya menyadari satu diantara tiga orang itu memakai seragam polisi lengkap. Dan keduanya memakai jaket berbahan kulit hitam. Nichkhun dan ketua tim.
“Kau di tangkap atas tuduhan pembunuhan yang melibatkan kau dan dua anak buahmu terhadap Park Bo Young.” Nichkhun menunjukan sebuah surat perintah penangkapan.
Wanita itu menggeleng. “Tidak mungkin.”
“Penjelasan dan pembelaan akan di laksanakan di depan hakim. Silahkan didampingi oleh pengacara.” Lanjut Nichkhun tegas. Lalu satu orang yang berseragam polisi lengkap itu memborgol wanita itu. “Joong Ki. Itu tidak mungkin! Kau seharusnya membelaku! Aku ini Ibumu. Aku tidak bersalah. Kau tahu? Gadis itu pantas meninggal. Aku tidak bersalah Joong Ki! Kau dengar Ibu?” Wanita itu terus merancau dengan rentetan kalimatnya terhadap anaknya yang masih tertegun melihat borgol menggelangi kedua pergelangan tangan Ibunya.

ㅠㅠㅠ

Song Joong Ki melangkahkan kakinya kembali di rumah yang hampir setiap harinya ia kunjungi. Namun, beberapa hari belakangan ini ia absen, tak mengunjungi rumah itu.
Dengan ragu ia mengetuk pintu rumah itu. Tak berapa lama, seorang perempuan paruhbaya keluar. Mereka beberapa saat saling menatap.
Saat itu juga Joong Ki langsung berlutut di hadapan Ibu Bo Young.
Park Bo Young yang menyaksikan itu menutup mulutnya dengan tangannya. Matanya mulai tergenang air. Dan mengingatkannya kembali pada saat kejadian ia berlutut di hadapan Ibu Joong Ki. Memohon agar membiarkannya hidup bersama Joong Ki. Memohon kehidupannya sendiri.
“Ommonim.” Lenguh Joong Ki memegang pergelangan kaki perempuan itu.
“Apa yang kau lakukan?” Suaranya bergetar parau, hampir tak terdengar.
“Maafkan aku. Maafkan Ibuku. Aku mohon ampun padamu.” Isak Joong Ki.
Ibu Bo Young terdiam sesaat kemudian ia menatap pemuda yang tengah berlutut di kakinya.
“Ibuku membunuh Bo Young! Maafkan aku. Maafkan Ibuku!” Raung Joong Ki.
Mata perempuan itu menangis tanpa diminta. Lalu dengan membabi buta ia memukul lemah punggung Joong Ki. Dengan sisa harapan kehidupan. Dengan keadilan yang tidak dapat menghidupkan kembali putrinya.
“Kau jahat! Kau dan Ibumu yang membunuh Bo Young. Gadis malang itu! Kau membunuhnya saat itu juga! Kau memupuskan impiannya menikah denganmu! Kau jahat! Joong Ki! Bo Young sudah terlalu lama tersiksa oleh dirimu dan keluargamu! Kau tega membunuhnya!” Sisa-sisa tenaganya terbuang dengan sia-sia menghisteriskan dirinya sendiri. Meluapkan segala emosinya terhadap pemuda yang memohon pengampunan itu.

ㅠㅠㅠ

Sungai Han, 23 Desember 2014 Pukul 10.32KST

Dengan pengamanan ketat dari kepolisian setempat. Dilakukannya rekonstruksi pembunuhan Bo Young tanpa rencana. Namun, kasus ini tetap termasuk pembunuhan. Beberapa tempat di beri garis polisi. Di pinggiran sungai Han dan di sebuah jembatan. Ibu Bo Young yang menyaksikan rekonstruksi itu hanya mengamatinya sampai selesainya rangkaian itu. Saat tersangka, Ibu Joong Ki mulai memasuki mobil polisi. Namun, Ibu Bo Young berteriak. “Tunggu. Aku Ibunya Park Bo Young!” Serunya.
Lalu Nichkhun menghampiri Ibu Bo Young. “Aku ingin bertanya satu pertanyaan saja untuknya.” Dengan menggigil ia berusaha berakata.
Nichkhun membiarkan perempuan itu masuk di dalam garis polisi. Beberapa polisi mengawal Ibu Joong Ki yang diborgol dengan pakaian tetutup topi dan masker mendekat ke arah Ibu Bo Young.
“Aku hanya ingin bertanya. Mengapa kau tega membunuh anakku? Anakku yang tidak bersalah! Anakku yang selalu bersalah!  Kenapa kau tega? Kenapa kau membiarkannya mati atas penyakitnya! Kau lebih keji dari apapun. Kau membunuh anakku!” Tanpa ampun emosinya keluar kembali diiringi dengan tangisan.
Ibu Joong Ki hanya terdiam. Mendapati kekalahannya.
“Kau berdosa dengan Bo Young! Dia adalah hidupku satu-satunya! Kembalikan anakku! Kembalikan Bo Young padaku!” Histeris Ibu Bo Young dengan menarik-narik mantel yang Ibu Joong Ki kenakan. Dengan sigap polisi membawa Ibu Joong Ki kembali.
“Akan aku pastikan hidupmu akan lebih tersiksa dari putriku!” Teriak Ibu Bo Young kembali.

ㅠㅠㅠ

Pengadilan, 29 Desember 2013 Pukul 13.30KST

Hakim memutuskan mengadili Ibu Joong Ki dengan hukuman 35 tahun penjara. Kasus di tutup dengan sebuah ketukan palu di atas meja peradilan. Ibu Bo Young yang menyaksikan itu tertunduk. Sekejam apapun peradilannya. Tetap tidak akan membangkitkan putrinya hidup kembali.

ㅠㅠㅠ

“Kasusmu lebih cepat dari yang aku bayangkan.” Ucap Nichkhun di sebuah taman. Tempat pertama kali yang dikunjunginya bersama Bo Young.
“Terimakasih. Aku hanya bisa mengucapkan kata itu.” Tunduk Bo Young menghadap Nichkhun yang duduk di bangku taman.
Nichkhun hanya tersenyum. “Itu sudah biasa. Itu tugasku.”
Bo Young membalas senyuman Nichkhun lalu mengadahkan kepalanya menatap langit yang sudah berganti warna menjadi abu-abu, kelam. “Kapan aku kembali?”
Nichkhun melihat arlojinya. “Ketika senja tiba. Matahari tenggelam. Kau akan kembali. Dendammu dibersihkan.”
Bo Young mengangguk.
“Semudah itu aku menjalani kasusmu. Kau percaya padaku, kau membantuku dan kau tanpa aku seret kembali ke alammu dengan sendirinya.” Nichkhun berkata sambil menerawang.
“Itu tujuanku dari awal. Aku hanya ingin kembali. Agar dendamku tidak bertambah di dunia ini.”
Nichkhun beranjak dari duduknya. “Beberapa menit sebelum kau kembali. Kau dapat terlihat oleh dua orang yang cintai. Gunakan lah kesempatan itu.”
“Benarkah?”
Nichkhun mengangguk dan melambaikan tangan pada Bo Young. “Selamat tinggal. Sampai jumpa. Surga atau neraka akan menyambutmu.” Pemuda itu pun berlalu meninggalkan Bo Young dengan semburat rasa terimakasih.

ㅠㅠㅠ

Detik-detik terakhir kehidupannya di dunia. Bo Young melihat Ibunya yang sedang menyulam seraya menonton televisi. Kehidupan Ibunya akan membaik sepertinya dengan keadilan yang tidak akan pernah mengembalikan Bo Young. Gadis itu duduk di samping Ibunya. “Ibu.” Ucap Bo Young perlahan.
Tak ia sangka Ibunya mengalihkan pandang kepadanya. Ucapan manusia setengah dewa itu benar. Di detik terakhirnya ia dapat terlihat oleh orang yang ia cintai. Ibunya mendengar panggilan gadis di sampinya. “Bo Young. Kau kah itu?” Tanyanya tak percaya.
Bo Young mengangguk kemudian tersenyum. “Ibu akan baik-baik saja kan?”
Tanpa menyianyiakan waktu Ibunya memeluk Bo Young dengan sempurna. “Aku merindukanmu. Park Bo Young.” Isaknya.
“Aku juga, Bu.” Bo Young membalas pelukannya dan menatap Ibunya lekat. “Maafkan aku meninggalkan Ibu tanpa firasat dan kata selamat tinggal. Aku meninggalkan Ibu dengan cara yang tragis. Aku membiarkan Ibu hidup seorang diri tanpa izin.”
Ibu Bo Young menggeleng. “Tidak! Kau tidak salah. Ini takdir. Kau harus percaya itu.”
“Jaga diri Ibu baik-baik.” Pinta Bo Young menghapus air mata Ibunya.
“Percayalah, Nak.” Saut Ibu Bo Young.
“Baiklah, aku mencintaimu Ibu. Selamat tinggal.”
Detik itu juga Bo Young hilang dari pelukan sang Ibu. “Aku juga menyayangimu.” Lirihnya dengan melihat pigura putrinya tanpa berusaha mengartikan keajaiban itu. Ini adalah pesan terakhir untuknya. “Aku sangat menyayangimu.”

ㅠㅠㅠ

Saat Bo Young berada di hadapan makamnya ia melihat seseorang melangkah dengan payung berwarna transparan karena hujan salju mulai menuruni makam itu. Pakaian pemuda itu kemeja hitam panjang yang lengannya digulung sampai siku. Song Joong Ki.
Kemudian pemuda itu menatap makamnya, benar-benar menatapnya. Sampai matanya pun kini menangis. “Ampuni aku Bo Young-ie. Aku dan Ibuku dosa besar atas kematianmu. Maafkan aku Bo Young. Maafkan aku.” Isaknya tertunduk.
“Aku memaafkanmu.” Lirih Bo Young yang di sambut dengan mata Joong Ki yang melihatnya.
Kedua kesempatan itu untuk Ibunya dan Joong Ki. Bo Young percaya kini saat Joong Ki melihatnya melalui ucapannya.
“Bo Young.” Langkah Joong Ki perlahan menuju Bo Young dengan semburat keheranan tertuju pada pikirannya yang dipenuhi pasal undang-undang. Payung yang ia gunakan kini tergeletak begitu saja. Tanpa memperdulikan dinginnya bongkahan salju yang menusuk kemejanya.
“Song Joong Ki. Aku merindukanmu.”
Joong Ki langsung memeluk Bo Young. Melupakan rasa kerinduannya pada gadis yang selama ini tidak bisa ia lihat dengan kasat. Joong Ki terisak di pelukan gadis itu. Hingga air matanya membanjiri pundak Bo Young.
“Maafkan aku. Aku pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Maafkan aku. Kau tersakiti olehku. Maafkan aku. Ibumu dijebloskan ke penjara. Maafkan aku.”
“Tidak. Kau tidak bersalah. Aku yang salah. Aku yang melibatkanmu dalam kebencian Ibuku.” Pelukan Joong Ki semakin erat dengan nada bicara yang bergetar hebat karena dinginnya yang begitu menusuk.
“Jangan pernah kau membenci Ibumu. Aku akan membencimu di sana jika kau membenci Ibumu. Ingatlah wanita yang melahirkan dirimu.” Bo Young memberi satu wasiat lisan.
“Aku mengerti.” Angguk Joong Ki.
“Baiklah, aku mencintaimu. Selamat tinggal. Song Joong Ki.” Saat itu Bo Young benar-benar menghilang ketika matahari sudah tenggelam. Joong Ki hanya memeluk sebuah bayangan yang di terpa angin salju kemudian.
Ia menjatuhkan lututnya di bumi yang sudah ditutupi salju. “Aku juga sangat mencintaimu. Park Bo Young.” Isaknya kembali sampai suara itu parau betul.

Segelanya. Peradilan itu berlaku. Rela atau pun tidak. Ikhlas kuncinya.

END ★

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s