Uang Yang Tumbuh Karena Cinta

Uang Yang Tumbuh Karena Cinta

“Cinta yang menggunakan kepercayaan dan uang yang digunakan untuk kejujujuran”

Pikiran dan suaraku telah di bayar untuk ini. Saat aku berada di Auditorium berceloteh dengan bagaimana pentingnya pernikahan yang berlandaskan uang. Bukan tentang bagaimana harus hidup sebagai wanita bermatrealistis, aku hanya ingin mengungkapkan kehidupan yang realistis.
Mataku berkali-kali menyebar ke arah ratusan mahasiswa yang sedang mendengarkan seminarku. Di antaranya mengangguk sepaham dan sebagian lagi diam tanpa ekspresi, dapat kupastikan golongan diam tanpa ekspresi itu ialah kaula adam. Wajar saja, mimik seperti itu mereka pergunakan untuk berpikir bagaimana caranya hidup sejahtera di masa depan dengan gelar yang akan mereka dapat nanti? Apakah menjamin kesejahteraannya? Atau sekedar menikahi gadis yang mereka cintai baru memikirkan kesejahteraan itu. Entah, mereka punya caranya sendiri.
“Dapat saya tekankan sekali lagi di sini bahwa alasan mengapa wanita memilih menikah dengan pria mapan bukan karena mereka matrealistis, namun uang sudah dianggap sebagai salah satu dasar dalam sebuah pernikahan selain cinta.”
Kebanyakan mahasiswi yang menginjak semester akhir semakin mengangguk, menyetujui deklarasiku.
“Tapi, yang perlu kalian ketahui lagi tentang cinta yang berlandaskan uang bukan semena-mena kalian akan bahagia. Uang juga tidak menjamin hidup kalian akan sejahtera. Jika kalian tidak dapat mengatur keuangan di dalam pernikahan maka uang sendirilah yang akan…”
“Lalu bagaimana dengan pilihanmu sendiri,” tiba saja seorang pemuda bangkit dari duduknya membuat ucapanku terhenti memandanginya yang berada di pertengahan Auditorium. “Apa cinta bisa tumbuh karena uang atau uang bisa tumbuh karena cinta?”
Seisi ruangan berbalik memandangiku, menunggu apa yang akan aku jawab. Mata pemuda itu seketika mengintimidasiku. “Apa ini adalah sebuah pilihan?”
Dapat kulihat pemuda itu mendengus dengan baliknya pertanyaanku. “Bukankah cinta dan uang adalah pilihan? Lalu untuk apa kau berada di sini? Apa niatmu sebagai motivator hanya untuk mendorong wanita agar berprilaku hedon hingga menyudutkan semua pria menuruti kebutuhan lahiriah wanita yang tiada habisnya?”
Mendadak suara riuh berbisik menghadangku, hingga tak sempat lagi aku melihat pemuda itu pergi meninggalkan acara seminarku begitu saja. Apa yang dia pertanyakan? Apa dia terlalu sensitive membicarakan uang dan cinta? Aku tidak mengerti, apa pun alasannya, dia sudah membuatku memikirkan pertanyaannya sampai tak kembali terfokus membahas hal semula di depan mahasiswa yang masih terlihat antusias.
***
Tidak tahu sudah berapa lama aku di dalam kedai kopi tak jauh dari kampus yang baru aku singgahi untuk seminarku hari ini. Dan entah berapa lama lagi aku akan menghabiskan waktuku untuk memikirkan pertanyaan pemuda tadi hingga aku lupa kalau secangkir Frappucino yang semula mengepul hangat kini menjadi dingin, menyisakan aku yang kehilangan selera untuk menyeruputnya agar mencairkan pikiran. Seolah hebatnya aku memotivasi banyak orang agar hidup sejahtera dan bahagia dengan adanya uang, namun kenyataannya aku masih lumpuh karena hal kecil yang bukan sepele itu. Ibaratkan cinta adalah pondasi dan uang adalah pilarnya. Keduanya memiliki kepentingan yang sama, lalu apakah dengan adanya pondasi, pilar akan terbangun? Sekiranya begitu pertanyaan pemuda yang tak dikenaliku saat seminar tadi. Lagi, aku kembali menarik nafas panjang. Sampai sepersekon berikutnya seorang pemuda duduk di hadapanku. Rambutnya dibiarkan acak serta tulang pipi yang tegas, mengingatkanku pada pemuda itu. Seorang pemuda yang meninggalkan pertanyaan dan seminarku beberapa jam lalu. Bentuk wajahnya yang tegas membuatku yakin, dialah pemuda yang sedang aku pikirkan, lebih tepatnya aku memikirkan pertanyaannya.
“Apa sesulit itu untuk menjawab pertanyaanku?” Sambutnya yang tak terkesan basa-basi.
Dengan congkak aku balik bertanya, “Apa sesulit itu menunggu jawabanku sehingga kau memilih pergi dari seminarku?”
“Lalu apa jawabanmu? Apa cinta bisa tumbuh karena uang atau uang bisa tumbuh karena cinta?”
“Uang bisa tumbuh karena cinta.”
Mendengar jawabanku pemuda itu mendengus. “Jawabanmu terdengar cari aman. Padahal batinmu tak berkata begitu.”
“Jadi kau ingin jawaban semacam apa?”
“Jawablah sejujur mungkin.” Pemuda yang tak kuketahui namanya itu meregangkan punggungnya, sebelum melanjutkan, “Karena aku ingin menikahi seorang gadis dan aku membutuhkan jawaban seorang motivator agar bisa mencapai kesejahteraan finansial bersama gadisku.”
“Begini saja, apa menurutmu cinta bisa di beli dengan uang?”
“Tidak. Cinta di beli dengan perasaan.”
“Berpikirlah realistis!” Semburku seketus mungkin. “Untuk apa adanya mahar dalam syarat meminang seorang wanita kalau ternyata cinta dapat di beli dengan perasaan. Bahkan adat pun mengiyakan bahwa cinta dapat di beli.”
“Bukankah itu hanyalah syarat? Yang kemudian setelah pernikahan itu terjadi, cintalah yang paling berperan.”
“Apa kau ingin memberi makan istrimu dengan cinta?”
Pemuda itu bergeleng pelan sambil mengatupkan bibirnya.
“Sesuatu yang kecil pun membutuhkan uang. Dan persepsiku tentang cinta yang berlandaskan uang bukan tentang bagaimana memenuhi keinginan lahiriah wanita yang tidak ada habisnya, tapi bagaimana caranya untuk mengatur masa depan dengan uang.”
“Jadi, apa menurutmu uang dapat tumbuh dengan cinta?” Ia kini menyecar jawabanku yang dianggap cari aman.
“Tepat! Cinta adalah pondasi dan uang adalah pilarnya. Ketika kita bisa membuat pondasi maka pilar akan segera di buat. Begitu dengan semua pria yang telah mendapatkan cintanya, maka ia akan berusaha memenuhi keinginan wanitanya. Dari itu uang bisa berjalan karena cinta. Dan kekuatan cinta tidak akan mengkhianati. Namun, kekuatan uang dapat mudahnya mengkhianati siapa pun, terlebih jika melandasi kalau cinta akan tumbuh karena uang.”
Akhirnya pemuda itu mengangguk, seperti mengisyaratkan ia sepaham. “Tapi, di zaman seperti sekarang, wanita yang memahami cinta lebih dari uang sangat langka.”
“Aku setuju padamu. Tapi, apa kau yakin? Maksudku begini, kalau kau berbicara jujur tentang finansialmu dengan baik sebelum pernikahan. Mungkin, pemahaman cinta lebih dari uang bisa kau cegah. Asalkan, kau mau jujur tentang keuangan masa depan tanpa embel-embel menjanjikan dan cukup meyakinkannya kalau kau punya masa depan yang baik.”
Pandangannya langsung merasuki aku, membuat aku memundurkan kepala. “Biasanya masa depan apa yang diinginkan wanita ketika pernikahan itu terjadi? Menurut dirimu saja.”
“Biasanya wanita cenderung memilih pria mapan, lalu pria yang suka menabung, dan pria yang memiliki segudang rencana masa depan.”
“Aku bukan pria mapan, dan aku juga tidak suka menabung. Tapi, aku memiliki segudang masa depan,” gumamnya lebih kepada dirinya sendiri, seolah sedang berkaca.
“Mapan dan tabungan akan datang ketika cintamu semakin kuat. Jadi, perkuatlah cintamu,” ucapku dan tanpa sadar mengambil cangkir Frappucino yang sudah dingin. Menghilangkan dahagaku karena sudah berceloteh panjang. “Biasanya aku di bayar lima juta untuk memotivasi.”
“Kau berharap aku akan membayarmu?” Pemuda itu mengernyit membuatku mendengus remeh.
“Tentu saja, uang juga bisa hidup karena pekerjaan, bukan? Jadi, tidak melulu menyoalkan cinta kasih tapi cinta pekerjaan juga bisa menumbuhkan uang.”
“Tapi apa uang yang kau dapatkan dari cintamu terhadap pekerjaan tidak menyisakan ruang hampa?”
“Maksudmu?” Tanyaku heran hingga mengerutkan dahi.
“Kau hebat dengan cara mencintai pekerjaanmu demi uang. Dan uang itu sudah banyak yang kau kantongi. Setelah itu hidupmu nyaris sempurna. Tapi, apa dengan uang kau bisa menutup satu ruang hampa?”
Aku masih belum paham maksudnya sampai akhirnya aku menggeleng. “Ruang hampa apa yang kau maksud?”
“Aku pernah membaca kutipan dari Benjamin Franklin bahwa Uang tidak pernah bisa membuat manusia bahagia, dan tidak akan pernah. Semakin banyak seseorang memiliki uang, semakin banyak yang ia inginkan. Alih-alih mengisi ruang hampa, uang malah menciptakan ruang hampa. Sepertinya ruang hampa itu semakin terlupakan olehmu.” Suara pemuda yang baru kulihat beberapa jam lalu semakin dipertegas. “Ya Tuhan, apa kau tidak membutuhkan cinta? Cinta kasih dari seorang pria? Apa kau merasa dirimu hebat dan terkesan memilih pria?” Pemuda itu pun memutuskan untuk menyimpulkan kalimat panjangnya yang membuatku setengah membuka mulut.
“Mengapa kau bertanya begitu?” Hampir tak habis pikir kenapa pemuda itu seolah ingin menguak pribadiku yang paling kusembunyikan. Yang bahkan aku sendiri tidak ingin membukanya.
Lalu pemuda itu mengangguk sambil mengulum bibirnya. “Ternyata betul semakin banyak orang memiliki uang, semakin banyak yang dia inginkan. Tak terkecuali dengan cinta perasaannya sendiri. Seolah kau memilih pria mapan mana yang akan kau cintai dengan kata lain pria mana yang berpenghasilan lebih besar dari pada dirimu.”
“Aku bukan wanita pemilih karena uang ataupun harta. Seperti yang sudah aku katakan, aku hanya perlu jaminan masa depan yang baik dan itu sudah aku utarakan kepada semua pria termasuk kau untuk meminang seorang wanita. Aku bukan membutuhkan uang semata untuk memenuhi lahiriahku tapi dengan uang aku ingin menggunakannya dengan bijak serta memiliki tujuan, tata nilai, sikap dan tindakan bagaimana aku dan pasanganku mengatur uang itu. Dan kupikir banyak wanita di luar sana juga berpikiran sama denganku.”
Pemuda itu seketika terdiam mendapati jawabanku yang bisa jadi masih dicerna di dalam otaknya.
“Mungkin pemikiran kita berbeda, karena aku berperan sebagai wanita dan kau pria yang harus memenuhinya. Satu lagi yang harus kau ingat, wanita lebih pandai mengatur uang ketimbang pria. Aku yakin, wanita yang akan menjadi istrimu kelak akan mengatur uangmu dengan baik, walau ia sudah memiliki rencana untuk membeli apa, tapi dia tidak akan menghabiskannya. Kau hanya perlu jujur atas keuanganmu dan percayalah kepadanya.”
“Dengan semua masukan dan motivasimu apa aku bisa meminang wanita yang aku inginkan?” Wajahnya mendadak rapuh, tidak seperti tadi dan itu cukup membuatku bergidik lemah. “Apa itu berarti ada uang ada cinta?”
Berusaha aku mengangguk walau terlihat kaku. “Uang akan tumbuh karena cinta. Lalu cinta dan uang harus tetap seimbang. Cinta yang menggunakan kepercayaan dan uang yang digunakan untuk kejujujuran.”
“Baiklah, terima kasih untuk waktunya. Dan aku akan membayar ocehan motivasimu dua tahun lagi!” Pemuda itu bangkit dari duduknya sambil melangkah mundur. “Percayalah!” Kemudian ia lari berhambur ke luar kedai kopi.
Sedangkan aku hanya menggeleng mengingat berapa lama aku menghabiskan waktu untuk memotivasi satu orang secara cuma-cuma. Tapi, dia berjanji untuk membayarnya. Oh tidak, dia berhutang.
Namun, setidaknya aku merasa puas telah memilih kebijakan sebagai seorang wanita yang wajibnya diberi dengan takaran yang pas dan bukan wanita matrealistis seperti mimpi buruk pria untuk menikah. Karena wanita yang cerdas akan memenuhi lahiriahnya dengan cermat apalagi mengingat cintanya. Sungguh, keajaiban cinta tidak akan tergantikan oleh uang sekali pun. Tapi, bukan berarti uang tidak dibutuhkan di dalam suatu hubungan.
***
Dua tahun yang lalu aku pernah mengisi seminar di kampus ini dan dua tahun lalu itu pula aku baru menyadari bahwa ada seseorang yang bisa jadi berjuang untuk mendapatkan cintanya. Tapi, tidak denganku yang masih setia mencintai pekerjaan. Tidak ada yang berubah padahal seminarku hari ini tidak lagi membahas pentingnya pernikahan yang berlandaskan uang seperti dua tahun lalu.
Aku jadi teringat pemuda yang meminta motivasiku untuk menikahi seorang gadis. Bagaimana dengannya? Apa dia sudah meminang gadis itu setelah mendapat motivasi dan perjuangan? Tidak peduli, yang kupedulikan hanya motivasiku berguna, itu saja.
Semilir angin di halaman belakang kampus membuatku semakin terlampau kesepian. Benar juga apa yang di katakan pemuda itu tentang kutipan Benjamin Franklin, alih-alih mengisi ruang hampa, uang malah menciptakan ruang hampa. Uang telah membelikanku segalanya, tapi tidak dengan cinta. Dan payahnya aku baru menyadarinya sekarang. Aku seorang wanita yang akan di beli, jadi untuk apa aku menghimpun banyak uang jika akhirnya aku malah memilih pria mapan. Tapi sekali lagi aku baru ingat, aku mencintai pekerjaanku. Jadi, bukan uang masalahnya. Hanya aku yang merasa celah ruang hampa itu semakin menyengatku untuk berhenti mencintai pekerjaanku dan mencari cinta sejati.
Kemudian aku menarik nafas panjang hingga tanpa sadar seseorang duduk di sampingku. Dengan spontan aku mengambil jarak.
“Bagaimana kabarmu Nona Motivator?” Sambutan itu membuatku mencari sumber suara.
Aku mengernyit memperhatikan pemuda dengan rambut rapihnya dan tulang pipinya yang tegas. Sebelum akhirnya pemuda itu menengok ke arahku, memperlihatkan senyumnya hingga aku semakin berpikir, benarkah pemuda ini yang pernah berdebat denganku soal uang atau cinta. Tapi, dia terlihat lebih rapih dan itu membuatku pangling.
“Kau lupa denganku?” Cepat ia bereaksi sambil menunjuk dirinya sendiri. “Tapi, apa kau lupa kalau aku punya hutang dua tahun lalu?”
Bingo! Hanya dialah yang berhutang selama itu padaku. Aku pun terkekeh kecil seraya melihat kerapihannya dengan balutan kemeja putih panjang yang digulung hingga siku. Berbeda dengan dua tahun lalu yang memakai kaos kumal dan rambut yang berantakan. “Jadi, kau?”
“Ya, aku yang dulu meninggalkan seminarmu dan dengan kurang ajarnya meminta motivasimu untuk menikahi seorang gadis.”
“Apa yang kau lakukan di sini dengan pakaian serapih itu?”
“Aku hanya ingin bernostalgia dan kebetulan aku mendengar ada seminar. Tapi, sepertinya kampus ini hanya mengenal dirimu sebagai motivator, dan itu membuatku kecewa melihat kau lagi yang menjadi motivator. Tidak ada bedanya dengan kuliah dulu,” jawabnya meremahkan yang aku anggap sebagai candaan semata. “Lalu, kau masih menjadi motivator?”
“Seperti yang kau katakan tadi, kampus ini hanya mengenalku sebagai motivator.”
Gelak tawa terdengar darinya.
“Bagaimana denganmu? Apa uang hasil kerja kerasmu sudah dapat meminang seorang gadis yang kau inginkan?”
Ia mengangguk, “Aku sudah memiliki pekerjaan dan uang karena cintaku semakin kuat.”
“Jadi, kau sudah meminang gadis impianmu?”
“Aku baru akan melamarnya.”
“Kalau begitu bayar hutangmu dua tahun lalu. Aku sudah memotivasimu dengan sukses,” tagihku sambil menengadahkan tangan di depan wajahnya.
Semakin girangnya aku saat melihat dirinya merogoh saku celana, dan aku yakin ia akan membayarku karena sudah sukses membawanya pada kekuatan cinta yang bisa menumbuhkan uang.
Alih-alih beberapa lembar uang yang kudapat namun nyatanya kotak kecil berwarna merahlah yang bertengger manis di sana. Dan itu cukup membuatku menyatukan alis dalam. “A-apa ini?”
“Ini bayaranku,” saut pemuda itu sambil menunjuk kaku.
“Apa kau bercanda? Mana mungkin motivasiku dibayar dengan ini?”
“Mungkin saja, karena kekuatan cinta.”
Perlahan pemuda yang hanya kuketahui usianya di bawahku tiga tahun membuka kotak merah itu. Lalu terpampanglah kilauan dari dalam. Sebuah cincin perak dengan berlian di atasnya semakin membuatku bertanya, mengapa aku dibayar dengan ini? Dan kekuatan cinta apa yang di maksud?
“Dua tahun lalu aku berjanji untuk membayar motivasimu dan sekarang aku membayarnya dengan lamaran ini,” perjelasnya.
Ini mimpi? Bagaimana bisa pemuda yang bahkan tak kuketahui namanya itu melamarku?
Aku yang masih tak sanggup berkata memilih menelan liur samar. Yang kemudian pemuda itu melanjutkan, “Aku sudah jatuh cinta padamu saat pertama kali melihat kau seminar dua tahun lalu. Dan aku semakin terperosok cintamu saat mengetahui seberapa indahnya masa depan cintamu dengan keteraturan uang. Saat itulah, aku semakin percaya bahwa kekuatan cinta yang kumiliki akan membawaku untuk benar-benar meminangmu. Aku berjanji akan membayar motivasimu untuk mendapatkan gadis yang aku impikan dan gadis itu adalah kau. Aku membayarnya dengan cara melamarmu.”
Degup jantungku semakin tak beraturan saat mendengar penuturannya yang seperti sudah diatur dengan baik.
“Saat di kedai kopi itu, aku sudah tahu apa saja impianmu di masa depan. Tentang apa yang diinginkanmu untuk menikah, seperti pria mapan, pria yang suka menabung dan pria dengan segudang masa depan. Aku tidak mempunyai kedua di awal persyaratan tapi kau dengan suksesnya memotivasiku bahwa mapan dan menabung akan datang ketika cinta semakin kuat. Dari sana, cintaku semakin kuat untuk mendapatkanmu.”
“Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, tapi bisakah kau jangan bercanda?” Aku bertanya sekali lagi untuk meyakinkan diriku sendiri.
Pemuda itu menggeleng, “Aku serius, buktinya sekarang aku menjadi pria yang cukup mapan, memiliki tabungan dan masa depan baik untukmu. Cinta yang membawaku untuk berjuang mendapatkan uang, setelah ini uang akan semakin tumbuh karena cinta.”
“Jadi, dua tahun lalu aku memotivasimu semata untuk mendapatkan aku?”
“Bukan hanya itu, tapi aku semakin yakin bahwa kau bisa berada di masa depanku karena kelogisanmu mengatur uang seperti yang kau ungkapkan.”
“Ini seperti jebakan, tapi…”
“Menikahlah denganku. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun, namun, yakinlah aku bisa membawamu ke masa depan yang baik. Dengan uang yang tumbuh karena cinta.”
Aku mengangguk sambil tersenyum dan nyaris menangis bahagia kalau tidak cepat kuhalau. “Isilah ruang hampa yang pernah kau maksud.”
Dia mengangguk dengan tangan yang bergetar memasuki cicin itu kepada jari manisku. “Terima kasih. Dan perkenalkanlah, aku Bagas Siswanto.”
“Mira Handayani.”
Lucunya kita bekenalan saat dia sudah melamarku. Tuhan, anugrah cinta apa yang kau titipkan untukku?
“Uang akan tumbuh karena cinta dan aku akan membibit tabunganku hingga tumbuh menjadi uang karena kita akan menyiraminya dengan cinta,” katanya membuatku semakin merekahkan senyum.
“Memilih cinta atau uang, aku akan lebih memilih cinta karena cinta dapat menumbuhkan uang. Sedangkan uang tidak dapat menumbuhkan cinta,” tutupku yang langsung mendapatkan pelukan darinya, pelukan hangat dari seorang yang bernama Bagas, pria yang lebih muda dariku. Dan dia telah mengisi ruang hampaku yang beberapa menit lalu kosong. Namun, perjuangannya selama dua tahun membibit tabungan, cukup membuatku percaya kalau masa depan dengannya akan sangat indah.
Karena kekuatan cinta yang menuntunnya, tak terkecuali untuk mendapatkan uang.
Cinta adalah awal segalanya, sedangkan uang adalah akhir dari segalanya, karena uang hanyalah alat.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s