[Song-Fanfict] The Coffee

  
The Coffee

Adeladin Present©2016

Poster: ©AdeladinArt

Cast: 2PM’s Hwang Chan-Sung || Anne Lee (OC)

Genre: AU, Romance-Tragedi || Lenght: Ficlet || Rate: General || Disclaimer: The story my own inspiration by Chansung song’s Parfume with character from God.

“Bukan sekedar harum ketika kau menghirup benda kecil nan legam, candu dan rindu bergulat jadi satu. Seperti detik yang sudah-sudah, tidak pernah berubah, sampai hari semakin kelam ketika mati rasa meninggalkan harum yang mencekammu…”

-oOo-

Alunan Symphony No. 4 G Minor menghantarkan langkah seorang pemuda yang mulai memasuki kedai kopi pinggiran. Persetan untuk harum alam di tengah kota ini. Kopi, spesies kecil dan legam selalu menarik indra penciuman pemuda berhidung mancung yang kini tengah memperhatikan satu barista. Oh bukan, ini bukan hanya kisah dirinya dengan spesies kecil dan legam itu, ini juga bukan kisah indra penciumannya yang tajam akibat sang hidung mancung. Namun, ini adalah kisah seorang barista yang bermain api dengan spesies kecil dan legam dengan memanfaatkan indra penciuman tajam yang dimiliki seorang pemuda berhidung mancung.

Tapi harum aroma itu meninggalkan satu kepedihan yang tiada tara nyerinya, sampai akhirnya pemuda berhidung mancung itu menghempaskan pikirannya pada kelampauan dahulu.

-oOo-

“Long time no see,” sambut barista berambut kunciran yang bertengger di belakang kasir.

“Kau merindukanku?” Pemuda itu berceletuk percaya diri yang dibalas dengan dengusan kecil dari barista yang masih setia meladeni pemuda berhidung tajam di hadapannya.

“Setidaknya aku sangat bahagia karena selama tiga hari ini aku tidak direpotkan dengan secret recipe order yang biasa kau inginkan,” ucapan sakartis dari barista itu membuat cengiran sang pemuda semakin menjadi.

“Oh Ya Tuhan, aku baru tahu ada seorang barista yang mengingat bahwa pelanggannya tidak berkunjung selama tiga hari,” entah itu ejekan atau sebaliknya, yang jelas pemuda itu menunjukan mimik takjub.

“Baiklah, aku mengalah wahai pemuda jangkung. Jadi, silakan kau ingin order secret recipe apa sebelum antrean menumpuk di belakangmu.”

“Entahlah, tapi karena kau sudah mengalah padaku dan aku sangat percaya pada racikan kopimu, maka aku akan menyerahkan pesananku padamu. Yang terpenting masih dalam kategori secret recipe.”

“Kau begitu percaya pada racikan kopiku?”

Pemuda itu mengangguk, “Kenapa?”

Gadis barista itu hanya tertawa kecil sambil mengangguk. “Bahkan, kau tak tahu apa saja yang akan aku campurkan ke dalam kopimu nanti. Kau terlalu naif.”

“Aku yakin racikan kopi di sini tidak ada yang mengandung sianida. Untuk apa aku terlalu takut? Lagipula, kau yang membuat kopiku, jika aku mati kau akan mudahnya masuk penjara.”

“Baiklah. Atas nama siapa minumanmu?” Kemudian gadis barista itu mengambil paper cup ukuran grande dengan pena terselip di jemarinya.

“Aku sangat kecewa kau melupakan nama pelanggan setiamu,” kata pemuda itu sambil memegangi dadanya mendramatisasi.

“Hu… Hwa… Enggg… Hwang Sung?” Nada gadis barista itu terdengar meledek.

“Yak! Jangan sembarangan mengganti nama orang kau akan kena tindak pidana pencemaran nama baik.”

Sang barista menggelakan tawanya sambil menulis nama pemuda itu. “Hwang Chan-Sung. Mohon ditunggu pesanan dan tarifnya.”

“Akhirnya…”

Seorang yang bernama Chan-Sung itu langsung mengambil tempat duduk di salah satu bangku dekat dengan kaca besar yang langsung memperlihatkan jalanan kota yang masih terlihat lancar di sore hari. Berkisar lima menit menunggu, gadis barista itu datang dengan satu paper cup ukuran grande.

“Aku yakin kau tidak akan mengambil minumanmu sendiri,” katanya sambil duduk di samping Chan-Sung.

Pemuda itu kemudian melirik sang gadis yang kini sudah berganti pakaian, tidak ada lagi celemek hijau dan name-tag Anne Lee bertengger di tubuhnya, dan tidak ada pula rambut kunciran yang hampir mencekik mahkota gadis itu. Semuanya ditanggalkan dan menyisakan dress kemeja sebatas lulut jenjangnya. Semuanya berganti, namun harum kopi itu tidak akan pernah hilang, bahkan setelah Chan-Sung ke luar dari kedai ini. Harum itu akan berlanjut sampai terbawa di malam bunga tidurnya.

“Pekerjaanmu sudah selesai?” Chan-Sung bertanya setelah ketermenunggannya melihat gadis barista, Anne.

“Jangan terlalu banyak basa-basi. Minumlah orderanmu.”

Benar, tanpa sadar paper cup itu masih perawan tak tersentuh sang pemiliknya karena terlalu sibuk tenggelam dalam bayangan harum sang gadis barista. “Hey, kenapa kau membuat secret recipe yang dingin di cuaca minus seperti ini?” Protes Chan-Sung menyadari pesanannya, oh bukan ini bukan pesanannya, tapi permintaannya yang tidak jelas.

Anne melirik pengukur celcius di gedung yang berada di seberang jalan kedai kopi. “Hey, suhunya masih 2 derajat celcius. Belum sampai minus. Sudahlah minum saja,” Anne balik memprotes sambil mendorong paper cup itu mendekat ke arah pemiliknya.

Chan-Sung menggeleng dan mulai menyedot sedotan hijaunya. Meresapi segala rasa yang diterima indra pengecapnya.

“Mari coba kita tebak, apa yang kau rasakan?” Anne bertanya antusias ketika melihat ekspresi kegalauan Chan-Sung akibat secret recipe yang dibuatnya.

Rasa kopi yang tidak terlalu kentara dan lebih di dominasi rasa satu buah berwarna kuning favoritnya. “Kau menambahkan ekstrak pisang?” Tanya Chan-Sung baru merasa yakin dengan satu buah itu.

“Bingo!” Anne mengangguk pasti. “Masih banyak yang aku campurkan, bung. Ayolah, kau menjuluki dirimu Si Pakar Secret Recipe Dalam Satu Hirupan. Bagaimana ini?”

Lalu Chan-Sung mengambil creamy di atas kopi itu dan merasakannya sejenak sambil berpikir cita rasa apa yang diciptakan kream tersebut. “Ini seperti rasa kue Pie.”

“Ahh, kau masih terlihat ragu,” sindir Anne melihat ekspresi Chan-Sung yang terlihat menebak-nebak.

“Tidak, tidak. Aku yakin ini Cream Pie,” mata pemuda itu nyaris ke luar merasa yakin setelah menghirup harum yang diciptakan creamy itu.

“Kau menebak terlalu lama. Jadi, secret recipe ini apa namanya?”

Chan-Sung mengetuk dagunya dengan telunjuk, “Banana Cream Pie…” ia menggantungkan kalimatnya sambil melirik Anne yang menunggu jawabannya dengan kepala memiring.

“Cappucino, Moccacino, Frappucino?” Karena terlalu lama menunggu kelanjutan Chan-Sung, Anne memberi opsi dengan nada malas.

Bagai mendapat wahyu dari Yang Maha Kuasa, Chan-Sung langsung memegang erat kedua bahu Anne. Dengan nada terendahnya ia berkata, “Frappucino, right?”

Anne mengibaskan tangannya sambil mendengus, “Kau benar, namun kau terlalu lama.”

“Yang terpenting aku sudah menebaknya, Nona Barista,” saut Chan-Sung dengan mimik wajah dibuat semenggoda mungkin. “Banana Cream Pie Frappucino.”

“Ok, baiklah. Kau yang terbaik dalam menebak secret recipe.”

“Dan kau yang terbaik membuat secret recipe.”

Keduanya pun tertawa lepas hingga Chan-Sung melepaskan cengkramannya pada Anne. Tatapannya beralih ke jalan kota yang kini mulai terlihat orang-orang berseliwiran dan dapat ditebak kalau ini sudah memasuki jam pulang kerja.

“Selain yang terbaik membuat secret recipe apa lagi kelebihanku?” Anne memecahkan hening.

Chan-Sung yang sedari tadi sibuk dengan resep rahasia yang dibuat sang pujaan kini menatap Anne yang masih memperhatikan jalan. Kemudian ia menarik nafas panjang, “Kau pandai membuat aroma yang memabukkan. Kau pandai membuat diriku selalu mengingat setiap inch harum kopi yang kau ciptakan, dan aku merasa bahwa Parfum alami yang kau gunakan hanyalah sebiji kopi hitam.”

Anne tertawa, “Ternyata kafein telah merusak otak sarafmu, kau menjadi pecandu kopi sejati, Mr. Hwang.”

“Semuanya karenamu, ini bukan hanya rasa kopi yang menjadi candu, namun setiap kali aku menghirup aroma kopi, yang kuteringat hanyalah dirimu.”

“Kau sedang menggombal?” Anne kini menatap mata tertulus dari Chan-Sung dengan menaikan satu alisnya, ia pikir pemuda itu sedang menggombal dengan kata serapah yang menjijikan, namun sepertinya tidak.

“Aku sudah tergila-gila dengan parfum kopi yang sudah melekat pada dirimu, untuk apa aku menggombal?”

“Bisa saja untuk merayuku agar kau bisa memesan secret recipe sesuka hatimu,” jawab Anne kehilangan akal karena terlalu terbius dengan bidikan mata Chan-Sung yang mematikan. Persetan dengan mata itu.

“Aku tidak perlu bersusah payah memesan secret recipe dengan menyebutkan tiap racikannya, kau akan senang hati membuatkannya untukku. Seperti sekarang ini,” Chan-Sung berkata sambil menunjuk paper cup yang isinya sudah hampir setengah.

Anne Lee menghempaskan kepalanya di meja, lagi-lagi ia harus mengalah jika beradu mulut dengan pemuda sengak di sampingnya. “Baiklah, kau selalu menang wahai kekasihku,” bendera putih sudah dikibarkan Anne yang disambut tawa kemenangan oleh Chan-Sung.

“Tapi kau selalu menang di hatiku,” timpal Chan-Sung membuat Anne bangkit dari kekalahannya.

“I see,” Anne memegang lekat tangan kanan Chan-Sung kemudian melepaskannya ketika ia ingat akan sesuatu. “Aku ada janji dengan teman SMA-ku untuk makan malam bersama. Jadi, aku harus pergi sekarang, dan aku menyiapkan satu kopi lagi untukmu, kau bisa mengambilnya di meja bar sana, ok?” Ia bersiap untuk pergi namun di cegah oleh Chan-Sung.

“Aku akan mengantarmu,”

“Tidak perlu, aku dan temanku sudah berjanji untuk tidak membawa kekasih,”

“Hanya mengantar, aku tidak perlu ikut makan malam,” Chan-Sung tetap bersikeras.

Anne adalah Anne yang keras, dan dia menggeleng. “Cepat kau ambil kopimu di meja bar, nanti akan dingin. Sampai jumpa,” Anne tetap pergi yang sebelumnya mengusap puncak kepala Chan-Sung.

Pemuda itu terdiam hingga Anne berada di luar kaca sambil melambaikan tangannya. “Annyeong,” tidak terdengar jelas, namun Chan-Sung dapat melihat gerak bibir gadisnya dan menghilang bersama bus yang pergi ke arah utara.

Bahkan hingga gadis itu pergi, harumnya akan tetap bertengger manis pada indra penciuman Chan-Sung. Wangi gadis itu seperti udara, yang akan terus mengikutinya. Memikirkan harum gadinya tidak akan habis, lebih baik dia mengambil kopi buatan kekasihnya yang mungkin sudah dingin.

Ini bukan kopi secret recipe yang biasa ia inginkan, namun ini adalah kopi yang sesungguhnya, yang sebenarnya. Kopi hitam dengan paper cup berukuran tall itu menghembuskan harum yang sama seperti pembuatnya. Chan-Sung menyesap bibir paper cup itu dan merasakan betapa paitnya minuman ini. Kemudian, ia baru sadar ada tulisan di paper cup yang biasanya ditulis nama si pemesan. Kira-kira begini bunyinya, “Jangan terlalu sering merasakan kopi yang nikmat dan harum saja, kau harus merasakan juga kopi asli yang pahit dengan harum yang lebih memikat. Seperti hidup ini, kau harus merasakan kenyataan hidup walau pahit sekalipun, Fighting Hwang Chan-Sungie~”

Melihat pesan itu Chansung hanya terkikik sambil menggeleng, kemudian ia ke luar dari kedai kopi itu sambil terus merasakan kopi pahitnya.

Sudah hampir satu kilometer Chan-Sung berjalan menuju apartemennya, hingga ia melihat kekacauan yang terjadi ketika beberapa ambulan dan mobil polisi saling menyahut pada sirene. Bisa jadi ada kecelakaan atau mungkin serangan teroris yang kini sedang hangat dibeberapa negara. Namun, ia tidak ingin berspekulasi lebih liar lagi, Chan-Sung memutuskan untuk bertanya pada seorang Bapak yang berjalan dari arah sana.

“Apa yang sedang terjadi?”

“Ada kecelakaan bus yang hilang kendali hingga menabrak beberapa kendaraan dan pejalan kaki.”

Chan-Sung mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum kembali melanjutkan langkahnya bersama paper cup kopi yang masih setia digenggamannya. Namun, karena penasaran dengan kecelakaan maut itu, akhirnya Chan-Sung terus berjalan menuju TKP melewati persimpangan yang seharusnya ia tuju untuk kembali ke apartemen.

Dan ya, banyak sekali manusia di sana, tak terkecuali korban yang tewas di tempat hingga menimbulkan bau hanyir. Banyak pula orang-orang berkumpul ingin melihat korban-korban yang tergeletak, hingga Chan-Sung melihat kaki jenjang dengan sepatu boots berwarna coklat, sepatu itu terasa tak asing di indra penglihatannya. Sampai ia melihat seluruh tubuh pemilik kaki jenjang itu.

Seluruhnya, Anne Lee menjadi korban kecelakaan maut itu dan kini tubuhnya tergeletak bersama belasan korban lainnya. Dress kemeja panjang berwarna putih itu kini berubah warna menjadi merah akibat harum hanyir yang kini semerbak di indra penghirup milik Chan-Sung.

Chan-Sung menggeleng dan menjatuhkan paper cup-nya begitu saja lalu menghamburkan diri ke arah Anne Lee yang sudah tak bernyawa.

-oOo-

Meski harum hanyir telah menggantikan parfum kopi yang biasa melekat pada dirimu, namun, harum kopi itu tetap mengambang di udara, yang setiap detiknya dapat membuatku mengingat dirimu dan menggila karena dirimu di waktu yang sama.

Kau datang padaku seperti angin dan terus memberiku harum kopi itu…

Dan hingga pergimu juga bagai angin yang meninggalkan harum kopi itu…

Kenanganmu dengan parfum kopi itu terus menggali hatiku hingga perih yang tak terbantahkan.

Kemanapun aku pergi, aromamu berhembus kepadaku…

Kemanapun aku pergi, bayanganmu datang kepadaku…

Itu menyakitkan, karena harummu sudah menjadi satu dalam atmosfer kehidupanku…

-fin

A/N: 아~ akhirnya song-fanfict ini bisa dipublish di wp tercinta.wkwka Well, thanks a lot for Hottest Community Indonesia yang sudah membiarkan aku keluar sebagai juara utama dalam project Chansung Song-Fanfict ini. Bener-bener rasa syukur yang tiada habisnya karena berkesempatan bisa menang di dunia tulis menulis lagi.

And this is a gift from Hottest Community Indonesia :

   

  Thank you so much HIC and other member with like and support~

I love you💕

Warm hug,

-del 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s