[FanFic – Request] Every Morning

image

Every Morning

Adeladin Present©2016
Poster ©AdeladinArt

Cast: BTS’s Jeon Jung-Kook, Cho Na-Young (OC)
Genre: AU, Romance, School-life || Lenght: Oneshot || Rate: General || Disclaimer: The story my own imagination. Plagiarism Take Go Away~

“Aku dianggap sebagai angin lalu, tak penting, tak berarti, namun aku tetap menanti. Setiap pagi, setiap fajar menyapa dari gulita tak berujung. Tak berujung baginya. Gadis itu…”

***

Sumpah serapahku lagi-lagi berkumandang kecil di ujung bibirku saat melihat betapa penuhnya bus pagi ini. Sama sekali nol untuk tempatku duduk, ya aku harus meregangkan otot untuk berdiri dengan tangan menggantung pada pegangan bus selama 20 menit. Cukup lama, tapi menurutku itu sangat lama hingga sang kemudi bus menginjak pedal rem sangat dalam. Hampir semua penumpang terdorong ke depan yang menimbulkan kericuhan.
“Hey! Kau bisa menyupir tidak?!” Pekik seorang pria di sampingku dengan wajah murka.
“Maafkan aku, ada pengendara motor yang melawan arah. Maafkan aku,” saut sang supir sambil menunduk berkali-kali di balik kemudinya.
Sontak suasana riuh terdengar dengan kata “ahhh, bagaimana ini”
Sebelum aku ingin membeo dengan kalimat yang sama, tiba-tiba sebuah bolpoin menggelinding ke arahku. Aku mengambilnya sebelum seonggok tangan ikut mengambil.
“Milikmu?” Aku bertanya pada seorang gadis berapakaian seragam sekolah yang sama denganku.
Kemudian ia mengangguk, “Maaf, tadi terjatuh saat bus rem mendadak,” katanya masih terduduk di samping tempatku berdiri dengan buku tebal di pangkuannya.
Aku memberikan benda itu padanya dan mengamati name tag yang terselip di kemejanya. Cho Na-Young, ah dia murid nomor 11 di kelasku, tapi melihatnya terasa asing. Sungguh. “Kau dari kelas 2.3, ‘kan?”
Ia mendongak ke arahku, “Ya.”
“Kau tidak mengenaliku?”
“Ya?” Ia mendongak lagi memperhatikan wajahku. “Aku tidak yakin, tapi sepertinya kita dari kelas yang berbeda.”
Ya Tuhan, kupikir aku populer tapi ternyata gadis ini tidak mengenaliku yang bahkan satu kelas dengannya. Aku terkekeh dengan jawabannya, “Tapi aku dari kelas yang sama denganmu.”
Tangannya yang sedari tadi sibuk memasukan bolpoin ke dalam buku di pangkuannya seketika terhenti. Senyum getir terlihat di ujung bibirnya. Hingga bus sampai di depan halte sekolah ia beranjak dari duduknya, meninggalkanku yang masih berpikir tentang; ahh…ternyata aku tidak sepopuler itu.

-oOo-

Pagi itu kembali, dan sama sekali tidak ada kesialan serapah yang biasa berbisik dari bibirku sendiri, yang ada hanyalah ketenangan dan kerenggangan bus pagi itu, bisa mungkin karena aku berangkat cukup pagi atau bahkan sangat pagi, hingga aku sadar ini baru pukul tujuh lewat empat puluh menit. Namun, sepertinya tidak masalah, karena dalam bus kini banyak kursi yang nol pemiliknya. Sampai aku memilih kursi paling belakang yang telah di isi dua penumpang, seorang pekerja wanita di pojok kiri dan ah, gadis itu lagi, gadis yang tidak mengenaliku sebagai teman satu kelasnya sendiri. Lalu aku duduk di sampingnya yang tengah memalingkan wajah ke arah jendela bus, dengan tatapan kosong dan buku tebal yang setia berada di pangkuannya.
“Sepertinya kita memiliki otak yang sama,” aku bersuara sambil menatap lurus, dan kulihat dari ujung mataku, gadis itu langsung mengalihkan wajah ke arah suaraku. “Kita berangkat sangat pagi karena takut bus ini tidak memiliki tempat lagi, ‘kan?”
Ia menatapku dengan wajah mengira, “Mungkin, tapi sepertinya tidak.”
Aku hanya mengangguk dengan dahi berkerut yang diikutin anggukan kaku. “Kau dari kelas 2.3, ‘kan?”
Ia mengangguk dengan mata beralih ke lain arah.
“Apa kau mengenal Jeon Jung-Kook murid nomor 18 dan dia satu kelas denganmu?” Aku menyebutkan namaku dengan sangat jelas, saking jelasnya hingga aku merasa seperti orang bodoh, untuk apa aku menanyakan namaku sendiri pada teman satu kelasku.
“Aku pernah mendengar namanya, tapi aku tidak yakin satu kelas dengannya.”
Dan jawabannya membuatku berpikir, apa kemarin pagi aku tidak sempat bilang aku adalah Jeon Jung-Kook dan aku satu kelas dengannya, tapi kemudian ia melirik name tag-ku. Namun, dengan cepat maniknya kembali ke arah jendela. Memalingkan wajahnya dariku.
“Anggap saja kau lupa dengan teman-teman satu kelasmu,” aku berkata sambil melirik jemarinya yang mencengkram buku tebalnya dengan erat.
Kemudian hingga roda bus menepi di halte sekolah tak ada kata yang ke luar dari bibirnya dan aku juga.

-oOo-

Untuk fajar yang berikutnya, aku menemukan gadis itu lagi duduk di kursi tengah bus. Gadis yang terkadang aku perhatikan punggungnya saat di jam kelas sedang berlangsung, gadis yang terkadang lupa teman satu kelasnya sendiri, dan gadis yang selalu kutemui di bus setiap pagi.
Aku duduk di sampingnya yang tak memiliki empunya hingga ia memalingkan wajahnya ke arahku. Pandangannya aku sambut dengan ceringan lebarku, namun matanya meneliti pakaian seragam kami yang dasarnya sama. Setelah itu ia memilih menunduk kecil dan kembali melihat jalan kota.
“Apa kau sudah mengerjakan tugas Matematika?” Aku bertanya dengan ringan sebagai teman satu kelas.
“Sudah,” ia menjawab sekenanya namun seketika matanya kini menatapku kembali. “Bagaimana bisa kau tahu kelasku hari ini ada tugas Matematika?”
Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku lebih tertarik berpikir apa dia melupakanku sebagai teman satu kelasnya sendiri yang bahkan beberapa hari ini bertemu antar wajah setiap pagi. Baiklah, aku bisa memahaminya jika pertemuan kami sebelumnya ia tidak mengenaliku, karena pada saat itu aku tidak mengenalkan diriku dengan benar, namun ini sudah ketiga kalinya, dan dia pun masih belum mengenaliku sebagai teman sekelasnya. Dia bodoh atau ahh…
“Apa kau tidak mengenali teman sekelasmu satu persatu? Apa kau tidak mudah mengenali wajah teman satu kelasmu?”
Ia menatapku lekat-lekat dan di balik bilik matanya tersirat kebingungan. Aku berharap ia menjawab ‘aku mengenali semua teman satu kelasku’ namun yang aku dapati adalah…
“Apa kau teman satu kelasku?”
Aku mendesah bingung dengan volume keras aku bertanya. “Apa kau pernah melihatku sebelumnya?”
Mendengar pertanyaanku ia memundurkan bahunya dengan air muka yang ketakutan, hingga bus sampai di depan halte sekolah. Ia buru-buru melewatiku, turun dari bus dan berjalan dengan cepat.
Entah mengapa aku merasa sedang di bodohi. Di bodohi dengan kebodohan gadis itu, Cho Na-Young yang setiap pagi melupakanku.

-oOo-

Tak aku temui keberadaan gadis itu di kelas, sama sekali tidak padahal lima menit lagi pelajaran akan di mulai. Namun saat aku hendak ke luar kelas, kami berpapasan, ia menatapku dan dengan cepat ia langsung menunduk dan kembali melanjutkan langkahnya.
“Syukurlah kau masih mengingat kelasmu,” cetusku hingga langkahnya terhenti.
“Mungkin kita pernah bertemu sebelumnya, namun maafkan aku karena aku lupa tentang pertemuan itu. Jadi, anggap saja kita tidak pernah bertemu.”
Aku menyambar tangannya hingga ia menghadapku. “Apa kau sedang membodohiku? Kebodohan apa yang sedang kau permainkan?”
“Aku tidak pernah membodohi siapa pun, dan aku tidak sedang bermain kebodohan yang kau maksud. Jika kau tidak ingin bermain pada kebodohan yang kau ciptakan sendiri, anggap kita tidak pernah bertemu, abaikan aku.” Seketika matanya menusuk manikku hingga jarum-jarumnya mendarat pada hulu hati ini. Jawabannya tegas hingga tanggannya tergerak dari ikatan eratku.
Ia masuk ke kelas tepat bell berbunyi, aku melewati kursinya dengan seribu pertanyaan. Pertanyaan yang tak akan terjawab.

-oOo-

Hari demi hari seperti hari mengabaian sedunia. Masih sama, aku melihatnya setiap pagi di bus, ia sama sekali tidak melihatku. Entah ini cara pengabaiannya atau dia memang benar-benar tidak melihatku, atau dia memang melupakanku seperti yang sudah-sudah.
Jari telunjuknya menyusuri kalimat pada buku tebal bersampul kulit yang biasa di pangkuannya. Entah apa…
Dan sampai langkahnya menuruni bus, aku tertarik untuk mengikutinya, hingga ia menaruh buku tebalnya itu ke dalam loker. Namun, kini awaknya berpapasan denganku, punggungku seketika tegang merasa tertangkap basah, namun ekspetasiku tentang dirinya berbeda, ia tersenyum padaku seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Lagi, aku dibuat heran dengan sikapnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada otaknya.
“Cho Na-Young!” Aku memanggilnya saat sudah beberapa langkah ia melewatiku.
Ia berbalik menghadapku dengan langkah bergetar aku menghampirinya.
“Kau dari kelas 2.3?”
Ia mengangguk sambil memperhatikan wajahku, “Ya, dan kau?”
Demi Dewa Lautan, aku bukannya bahagia dengan sikapnya yang sama sekali tidak menunjukan kemurkaan, namun hatiku merasa sakit, pikiranku terasa bercampur aduk hingga aku lupa namaku sendiri dan dari mana kelasku. Aku tidak menjawabnya dan memilih berlari dari hadapannya yang memandangiku seperti orang bodoh.

Setiap pagi, ia melupakanku…

-oOo-

Aku sungguh tak paham sikap apa yang Na-Young jalani, kebodohan apa yang sedang ia mainkan. Namun, rasanya seperti ada yang terasa nyeri ketika sikapnya setiap hari tidak mengingatku, mengingat pertengkaran kita dulu. Dan setiap pagi ia menganggapku seperti orang baru.
Sampai suatu waktu tiba, ketika jam istirahat sedang berlangsung, aku bukannya makan menyantap nikmat makanan siang ini, aku memilih melangkah menghadap loker Na-Young.
Aku tidak tahu apa sebab aku ingin mengetahui isi lokernya, namun hanya ini kunci dari semua permainan yang setiap pagi Na-Young mainkan, padaku. Mungkin hanya padaku.
Aku membuka loker itu hingga beberapa kertas post-it yang menempel bertumpuk menyambutku dengan tulisan yang tidak biasa dan yang bahkan bisa kita ingat di luar kepala, seperti nomor teleponnya, alamat rumahnya, nama-nama teman dekatnya, berada di kelas mana dirinya, makanan apa yang ia makan kemarin, siapa saja yang berbicara dengannya, hingga namaku tertulis di bagian paling menumpuk dengan tulisan kecil nyaris tak terlihat di dalam loker yang minus cahaya. Kemudian tanganku, mengambil buku tebal bersampul kulit yang selalu ia genggam.

-oOo-

Selama jam pelajaran terakhir aku tidak masuk kelas dan lebih memilih bersatu dengan angin di atas rooftop sekolah. Satu jam, dua jam, tiga jam atau mungkin lima jam, entah, yang jelas aku mulai merasa matahari di ufuk barat menghangat saat aku membaca halaman terakhir buku tebal bersampul kulit milik Na-Young.
Tulisan Na-Young pada setiap lembar buku itu membuatku merasa bersalah, karena selalu menganggapnya sedang membodohiku setiap hari, namun ternyata ialah yang sedang di bodohi takdir. Ia mengidap Amnesia Anterograde, di mana Na-Young dapat melupakan kejadian yang baru saja terjadi ketika ia tertidur, itu sebabnya ia memilih menulis apa saja yang telah ia lakukan hari ini, siapa saja yang ada dalam hidupnya hari ini dan lainnya sebagai pengingat untuk dirinya ketika ia terbangun, namun, tak ada sama sekali namaku tersurat di sana. Dan mungkin, ia benar-benar ingin melupakanku yang telah berlaku salah padanya yang ternyata memiliki alasan mengapa ia melupakanku, setiap hari, setiap paginya.
Sampai kemudian aku berinisiatif untuk menempel lembar fotoku yang berada di dalam dompet pada buku bersampul kulit itu dan menulis biodataku serta masa lalu apa yang pernah aku dan Na-Young lakukan.
Untuk mengingatnya, ya mengingatkannya tentang diriku yang pernah ada di dalam hidupnya, kemarin yang terlupakan.

-oOo-

“Apa kau sedang mencari benda ini?” Tanyaku sambil menunjukan buku bersampul kulit pada sang empunya yang sedang memeriksa satu persatu laci meja murid di kelas 2.3 di mana sudah tiada lagi penghuninya karena jam pulang sekolah sudah berlalu dari dua jam lalu.
“Kembalikan!” Seperti melihat mangsanya, Na-Young menghampiriku dengan tergesa-gesa.
Aku langsung mengangkat buku itu tinggi-tinggi hingga Na-Young merasa kesulitan menggapainya. “Seberapa pentingnya buku ini untukmu?”
“Sangat penting. Kumohon kembalikan!” Katanya meminta sambil terus berusaha menggapai tanganku di udara.
“Kalau gitu sebutkan namaku.”
Lantas ia langsung berhenti dari perjuangannya menatapku dalam nafas memburu. “Aku tidak tahu, aku tidak mengenalmu.”
“Kalau begitu…” aku langsung menyodorkan tanganku kepadanya, “Ayo kita berkenalan, namaku Jeon Jung-Kook dari kelas 2.3, kelas yang sama denganmu, di sini.”
Na-Young terdiam dengan mata menatap tanganku yang masih setia di hadapannya untuk mendapatkan jabatan tangannya. “Cho Na-Young,” ia menyebutkan namanya dengan pelan dan hampir terdengar seperti bisikan. Kemudian tangannya menyerahkan berjabatan denganku, sedetik dua detik aku langsung menariknya ke dalam dekapanku. Sambil berbisik dengan nada terlemahku, aku berkata “Jangan Lupakan aku. Anggap saja aku sebagai pengingat harimu setiap hari. ”
“Apa yang kau lakukan?” Tanyanya sambil mencoba berontak dari dekapan yang kubuat.
“Yang kulakukan hanyalah, mengingatkanmu agar kau tidak melupakanku lagi. Karena aku sudah tahu sebab kau melupakanku setiap paginya.”
Nafas Na-Young nyaris terhenti di pundakku dan kini aku merasakan bebannya di bahuku. “Mungkin kita pernah bertemu sebelumnya, namun maafkan aku karena aku lupa tentang pertemuan itu.”
“Tapi jangan menyuruhku untuk menganggap seolah-olah kita tidak pernah bertemu, karena aku akan selalu mengingatnya.”

-oOo-

Pagi itu saat aku mulai kembali menaiki bus menuju sekolah, aku sudah melihat Na-Young duduk di kursi tengah. Saat aku hendak duduk di sampingnya ia langsung menatapku, mengamatiku lalu tersenyum. Perlahan aku mulai duduk dan ikut tersenyum kaku sembari bertanya apa arti senyumannya itu. Apa itu artinya dia mengingatku, mengenalku, atau itu hanyalah senyum yang biasa ia buat pada setiap orang yang tak pernah ia tulis dalam buku pengingatnya, namun, ayolah aku sudah menempelkan fotoku dan semua tentangku di dalam bukunya, apalagi yang ia telah lewatkan.
“Bagaimana pagimu?” Tanyaku sambil melirik jemarinya yang menggenggam erat bukunya seperti biasa.
“Sangat baik,” saut Na-Young singkat.
“Apa yang membuatnya lebih sangat baik?”
“Hhmm, karena seseorang telah mengenal siapa aku.”
Aku memalingkan wajah ke arahnya, tak paham betul apa yang ia katakan.
“Siapa aku yang sebenarnya dan orang itu sudah tahu,” ia turut menatapku. “Orang itu adalah kau, Jeon Jung-Kook.”
Aku berani bersumpah ia mengingat siapa aku, mengingat namaku, mengetahui bahwa aku mengenal siapa dirinya. Ini mungkin terjadi, namun ini adalah kemenanganku di mana aku menjadi bagian terpenting dalam hidup seorang Na-Young yang melupakan apapun setiap fajar menyapa.
“Kau mengingatku?”
Ia mengangguk. “Hello, Jeon Jung-Kook apa kau masih ingin menjadi pengingat hariku setiap harinya?”
“Ya, aku berjanji untuk menjadi pengingatmu, setiap hari, setiap pagi.”
“Ahh… tapi sangat merepotkan jika kau mengingatkanku setiap pagi.”
“Lalu?” Aku bertanya heran dengan dahi terlipat.
“Entahlah, karena doaku sebelum tidur adalah aku tidak ingin tertidur agar aku tetap mengingat apa yang sudah terjadi dalam hidupku, agar aku juga tidak melupakan dirimu begitu saja, agar aku dapat mengingat dirimu selalu,” katanya dengan mata membayang.
“Tapi kau harus tetap tertidur agar kau merasakan indahnya fantasi bunga tidur yang tidak akan kau temui ketika kau terbangun,” timpalku. “Tidak akan ada yang tahu kau sedang bermimpi indah bersamaku.”
“Tapi bersamamu, tentang kau yang tahu keadaan kelainanku, itu sudah cukup membuatku berasa di alam mimpi paling indah.”
“Na-Young, jangan menganggap aku adalah mimpimu, tetaplah tidur dan bangun dengan itu kau akan tetap mengingat apapun. Kepercayaan terhadap dirimu sendiri, akan membawamu mengingat segalanya yang nyata.”
“Baiklah, terima kasih Jung-Kook kau telah menjadi bunga tidurku yang nyata dan aku berjanji mengingatmu setiap hari, setiap pagi.”
“Aku mencintaimu…”

-fin

A/N: And to be honest, buat fanfic ini bikin baper sendiri, tapi nggak tau deh yang request ff karbitan ini turut baper apa nggak wkwkwk. Dan, untuk sang OC alias Cho Na-Young alias yang request fanfic ini alias teman sebangku pas kelas 2 SMP dulu semoga merasa terhibur yak. Maaf ff-nya ngelantur nggak jelas, tapi serius anggap aja ini tanda terima kasih karena udah ngebantu saya bangkit jadi fangirl oppa-oppa Bangtan-nya. Hahaha

Warm Hug,
Del

Adeladin

Iklan

4 thoughts on “[FanFic – Request] Every Morning

  1. 안녕 authornim^^ ㅋㅋㅋ ahh sbnernya nggantung nih:’v sequel nya dong hehe😂 bagus ko thor gue suka idenya dapet aja yaa good job.. mangaat ya yg lgi ngerjain tugas haha😁 maap thor gabisa panjang2 gue ngga jago ngomentarin orang (?) tp yg pasti ini bagus bgt loh jd baper ae kan ah:”v udh ah cuap2 nya anyyeoongg~~😂

    Suka

  2. 안녕 authornim^^ ㅋㅋㅋ ahh sbnernya nggantung nih:’v sequel nya dong hehe😂 bagus ko thor gue suka idenya dapet aja yaa good job makasi udh dibikinin ff nya^^ mangaat ya yg lgi ngerjain tugas haha😁 maap thor gabisa panjang2 gue ngga jago ngomentarin orang (?) tp yg pasti ini bagus bgt loh jd baper ae kan ah:”v udh ah cuap2 nya anyyeoongg~~😂

    Suka

  3. 안녕 authornim ㅋㅋㅋ😂 pertama2 gua mau bilang makasi bwt authornya niih udh mau rela2 luangin waktunya bwt bkinin gua ff ehehe😁 dan makasi udh bkin gue baper:”v *plak. daaan ffnya jg bagus ko jujur gue baca ini ngerasa tuh cwe adalah gue:v dpt feel/? nya gtu cuma kurang panjang aja maunya sih ama sequel sih ya:v hahaha okee mangat bwt authornya yg lg berjuang/? ngerjain tugas2nyaa😊😊😂 nee annyeoongg~~😂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s